Nirmala

Senin, 18 November 2013

Alam Bercerita, Imajinasi Bermuara (2.985mdpl)


Alam yang mulai menarik pikiran dan hati untuk selalu ingin lebih dekat dengannya . Lalu dengan keberanian yang mungkin seadanya telah sampai pada hari dimana aku akan meninggalkan rumah (tempat yang paling nyaman di hidupku) untuk beberapa hari . Dimulai dari tanggal 13 September 2013 , hari Jumat malam hari. Aku menuju tempat dimana akan melajunya mesin beroda dengan kapasitas banyak yang akan mengantarkan aku ke sebuah tempat . Berkumpul , saling mengenal, saling menyapa dan tak lama kemudian terpejamlah mata ketika berada di dalam mesin beroda itu . Aku buka mataku dan tak terasa sudah sampailah aku disebuah tempat yang menyuguhkan angin yang menusuk tulang menembus dinding-dinding lapisan bajuku . Di tengah malam aku mulai beristirahat di sebuah tempat yang bisa dikatakan tempat singgah untuk yang akan memulai pendakian .




Adzan subuh mulai terdengar, kaki , muka dan tangan mulai basah dengan air yang sepertinya sangat masih belum bersahabat degan kulit . Sholat subuh , sarapan dan berbenah barang bawaan pun selesai . Sekitar jam enam aku memulai perjalanan menuju pos Kandang Badak dari warung mang Idi melewati jalur Cibodas . Jalan bebatuan , pohon yang rindang , cuaca yang cerah pagi itu sangat mendorong semangat untuk segera sampai di tempat yang dituju . Melewati telaga, air panas, air terjun, jalan naik turun naik turun seakan membuat tubuh ini menjadi sesering mungkin beristirahat, hingga pada suatu tempat yaitu di Kandang Batu bulu seakan merinding . Dan ternyata katanya tempat tersebut merupakan tempat dimana mayat-mayat pendaki yang meninggal saat pendakian diletakan sebelum akhirnya dibawa turun ke bawah . Setelah melewati Kandang Batu akhirnya tiba di Kandang Badak . Kandang Badak inilah yang menjadi tempat untuk mendirikan tenda . Setelah mendirikan tenda akhirnya tempat ini memberikan hujan, bulir-bulir airnya membasahi daun, ranting pun dengan tenda yang aku gunakan untuk beristirahat . Semakin deras, hanya rasa dingin yang terasa, menusuk sampai ke tulang tapi tidak sampai ke hati. Sampai tiba saat magrib masih ada gerimis . Gelap mulai berteduh pada tenda, malam akan semakin larut dalam dingin . Di bawah pohon, aku merasakan tetesan air hujan tadi sore yang mungkin tertinggal di daun atau bahkan ranting pohon . Memberikan satu sentuhan kesejukan yang mendamaikan . Saat itu memang hanya alam yang sedang menemani gelap ku, dalam dekapnya yang mungkin tak akan pernah aku tahu alam berkenan atau tidak dengan kehadiranku .

Surya Kencana bersama TIGA TENDA

Berdekatan dengan Kabut (tipis)

Mencari goresan rindu di tempat ini tidak aku temukan. Tak dicari akhirnya aku mendapatkan , teman baru yang menyenangkan . Tiga tenda bergabung menjadi satu , menikmati minuman hangat, nasi serta lauknya, juga makanan ringan untuk mengisi kekosongan lambung . Setelah diberi tahu kesepakatan bahwa esok adalah pendakian sekitar pukul 03.00 maka aku segera masuk ke dalam tenda dan segera istirahat . Sleeping bag yang aku gunakan memberikan kehangatan yang cukup sama hangatnya dengan teman-teman yang baru aku kenal .

Sebelum subuh sudah terdengar suara-suara kesibukan di luar tenda, lantas aku segera bersiap-siap untuk pendakian ke puncak Gunung Gede . Untuk memulai pendakian sekitar jam 03.00 pagi ini tak lupa doa bersama . Perjalanan dari Kandang Badak untuk menuju Puncak Gunung Gede menjadi amat berat, mengingat jalan yang harus dilewati benar-benar dalam keadaan dengan kemiringan yang sangat berarti . Membuat nafas terhambat, sering beristirahat tapi tak bisa terlalu lama juga beristirahat karena khawatir akan ketinggalan dengan yang lainnya , lebih khawatir lagi jika gagal menikmati matahari terbit yang dijanjikan alam . Head lamp yang aku bawa agak kecil, sehingga sulit juga untuk melangkah dengan sinar yang kurang terang . Akhirnya sampai juga di Puncak Gunung Gede, tapi masih belum terlihat sang matahari terbit . Ini karena kabut yang mungkin menghalanginya . Ketika sampai di puncak Gunung Gede aku serta teman-teman yang lain sholat subuh. Salah satu yang tak akan pernah aku lupakan dalam pendakian ini adalah ketika sholat subuh di atas tanah dengan ketinggian 2.985 mdpl, diselimuti kabut tipis, bersaksikan embun pagi, daun yang kedinginan serta udara yang sangat menusuk . Menikmati ketinggian dengan mengabadikan lewat kamera, aku dan teman-teman masih sangat penasaran dengan hamparan padang eddelweis di Surya Kencana . Kalau pendakian lewat jalur putri maka akan melewati Surya Kencana . Namun karena jalur putri sedang ditutup karena ada perbaikan maka aku lewat jalur Cibodas yang mengharuskan melewati Puncak Gunung Gede terlebih dahulu sebelum ke Surya Kencana . Inilah Surya Kencana, hamparan bunga eddelweis membayar semua peluh dan lelah . Dari kabut masih sangat terlihat sampai sudah tidak ada lagi kabut di sana , aku menikmati karya alam ini dengan tenang . Menjadikan ini sebagai salah satu pelajaran yang sangat berharga untuk selalu bersyukur . Sepertinya sudah terlalu lama untuk di Surya Kencana akhirnya aku dan teman-teman sepakat untuk meninggalkan tempat yang indah itu , untuk selanjutnya menuju Puncak Gunung Gede . Setelah sampai di Puncak Gunung Gede lagi ternyata gulungan awan masih belum terlihat jelas . Waktu itu sudah siang, perjalanan turun ke Kandang Badak tempat tenda didirikan pun lumayan  berat . Apalagi ketika di Tanjakan Setan, tapi akhirnya aku melewati jalur alternatif karena ada salah seorang teman yang tak mau melewati Tanjakan Setan itu . Sampai di Kandang Badak mulai masak untuk makan siang, setelah perut terisi aku pun mulai siap-siap untuk turun dan meninggalkan Kandang Badak ini . Ketika akan mengambil air wudlu untuk sholat Dzuhur, tidak sengaja aku ketemu oleh salah satu teman asal Malang yang pernah mengadakan trip ke Pacitan awal tahun . Tidak menyangkan bertemu kembali di tempat yang sangat menyenangkan ini.

Perjalanan untuk turun dari Kandang Badak ini di mulai sekitar jam 14.00, dengan memutuskan untuk memakai sendal saja sebagai teman si kaki . Di tengah perjalanan, tepatnya di sekitaran Kandang Batu telapak kaki lebih tepatnya di bagian jempol terasa sekali lecet dan bengkak . Agak perih jika dipaksakan terus berjalan . Tapi karena target untuk sampai sebelum magrib akhirnya aku pun tidak terlalu banyak istirahat . Sampai di pos terkahir sekitar pukul 17.30 mungkin jika kaki ini tidak bermasalah bisa lebih cepat . Menuju Warung Mang Idi dengan ditemani gerimis . Menambah kesan bahwa malam akan semakin mengintai, mendekap, lembut seperti lembutnya tetesan air yang jatuh dari langit . Perjalanan ini pun diakhiri dengan kembali ke rumah masing-masing . Pengalaman yang menyenangkan dimana aku mendapatkan apapun di sini . Aku dapat belajar bagaimana berbagi, bertahan hidup, menikmati alam, bersyukur, yakin pada target dan optimis . Mungkin hanya satu yang belum aku dapatkan dalam pendakian ini . J-o-d-o-h .

2 komentar: