Nirmala

Senin, 16 Desember 2013

C e l a ah

setelah aku telaah , mungkin tak akan ada celah
ah untuk apa celah ?

aku akan berdiam untuk tak menguak tentang kita
ah untuk apa kita ?

ketika aku merasa sudah lupa tentang dirimu , kau masuk di mimpiku
ah untuk apa mimpi ?

kau sering membias tentang perasaan yang ada
ah untuk apa ada ?

resah ku semakin dalam ketika hujan menyerang perasaan ]
ah untuk apa perasaan ?

aku terlalu cinta dengan diriku ,
terlalu fokus dengan kesendirian,
terlalu berbicara dengan hati sendiri,
terlalu banyak pertanyaan,

AH UNTUK APA AKU MENCERITAKANNYA ?

Rabu, 11 Desember 2013

Tunangan Tuan ?

Tuan .. Kali ini saya tahu .
Tahu sekali tentang pertunangan tuan . Saya tau karena orang tua tuan
datang dan bercerita dengan ayah saya , ketika ayah tuan menjenguk
ayah saya yang baru saja pulang dari rumah sakit beberapa hari lalu ,
ke rumah saya . Ayah tuan menginstruksikan kepada ayah saya agar
segera mengimplementasikan segalanya untuk pertunangan tuan .

Jelas tuan , itu jelas bagi saya .
Saya senang tuan . Saya amat senang . Saya tahu tentang perempuan yang
akan tuan nikahi nanti . Perempuan yang dulu sering tuan ceritakan
kepada saya . Perempuan itu terlalu sempurna ya tuan , cocok untuk
tuan . Ah , yang penting itu tuan bahagia . Soal saya ? Saya bukan apa
- apa tuan . Hanya seorang yang mengintai , mengamat , memuja , yaa
apalah namanya itu .

Kalau ingat dulu , saya sering perhatikan tuan yang baru pulang
sekolah . Lewat jalan sempit dan becek , banyak lubang dan genangan .
Waktu itu tuan beseragam putih biru . Saya ? Ya saya masih berseragam
putih merah . Masih kecil ya tuan , iya tapi saya sudah kagum sama
tuan .

Lalu tuan ingat ? Tentang gonta-ganti kendaraan tuan ? Saya hafal tuan
. Tentang merk-merk baju distro yang tuan pakai ? Saya juga hafal tuan
. Karena tuan setelah berseragam putih abu-abu , tuan lebih sering
lewat depan rumah saya . Tuan lewat jalan besar karena membawa
kendaraan.

Lalu tuan ingat ?  tentang seseorang yang sering telpon tuan. Iya ,
itu saya tuan . Cukup dengan mendengar suara tuan , cukup dengan tau
keberadaan tuan itu sudah membuat hati saya sekejap saja
berbunga-bunga . Tak perlu tuan , tuan tak perlu tahu siapa saya .
Saya tak pernah menyebutkan nama saya , apalagi asal usul saya .

Lalu tuan ingat ? waktu itu saya mampir ke kedai roti bakar atau
pisang bakar apalah itu nama nya . Setelah itu tuan menemui saya di
tempat itu . Tuan bercerita tentang perempuan yang amat sempurna itu .
Saya senang sekali tuan , hanya sekedar untuk bercerita dengan saya
dan melihat air muka tuan . Indah tuan , tuan terlihat tidak ada rasa
khawatir . Nyaman sekali rasanya bisa berbicara dengan tuan .

Lalu tentang kita sering kontak dua tahun terakhir ini tuan .
Sebelumnya maaf tuan , mungkin kalimat sebelumnya saya salah . Kenapa
salah? Maaf tuan , saya memakai kata "kita" , saya tau tuan , "kita"
itu tidak pernah ada untuk saya dan tuan . Iya benar tuan , dua tahun
ini saya dan tuan berkomunikasi dengan telpon seluler yang katanya
smart itu tuan . Saya senang menggunakan telpon seluler itu tuan ,
saya bisa lihat apa yang di-update oleh tuan . Cukup mengamati tuan
dari jauh saja itu menyenangkan tuan , amat menyenangkan .

Lalu tuan ingat ? Saya bertemu dengan tuan dan perempuan itu di sebuah
tempat makan , ah gerobak itu sih ya tuan . Karena hanya bubur ayam
yang disajikan oleh penjualnya . Saat itu tidak sengaja setelah saya
selesai makan , tuan datang bersama perempuan itu . Perempuan yang
amat susah payah tuan dapatkan hatinya .

Tuan tahu ? Menghafal rumus kimia itu berbanding terbalik dengan
menghafal gerak-gerik tuan . Iya tuan . Rumus kimia itu sangat sulit
dihafal . Tapi apa ? Gerak-gerik tuan sangat mudah dihafal . Mungkin
karena saya terlalu fokus dengan tuan .

Rasa ... Entahlah tuan . Rasa ini beredar ke seluruh hati saya , tuan
. Tumbuh merambat , makin lama makin merambat tuan .

Maaf tuan , saya tidak bisa menuliskan kata-kata yang indah untuk tuan
. Tidak bisa memuja tuan dengan perkataan yang mesra . Apalagi untuk
menatap wajah tuan . Saya tidak sanggup tuan . Bukan apa-apa , saya
hanya tidak mau saya terus berpikir dan ingin memiliki sesuatu yang
tak pernah bisa saya miliki , tuan .

Sekarang saya senang tuan , bahkan amat bahagia mendengar tuan akan
tunangan setelah itu menikah dengan perempuan itu . Sungguh tuan .
Karena saya tahu , tuan sangat menginginkannya . Saya tidak sakit hati
tuan , jika ini nama nya cinta ah boleh jadi tidak dan lebih tinggi
dari kata cinta . Boleh saya bilang ini ke-ikhlas-an tuan ? Ah tapi
ikhlas itu tidak pernah menyebutkan kata ikhlas ya tuan . Selamat ya
tuan , jika nanti hari itu datang , mungkin bibir ini akan terdiam ,
hati ini akan mendekam dan rasa ini akan tenggelam ~

Senin, 18 November 2013

Alam Bercerita, Imajinasi Bermuara (2.985mdpl)


Alam yang mulai menarik pikiran dan hati untuk selalu ingin lebih dekat dengannya . Lalu dengan keberanian yang mungkin seadanya telah sampai pada hari dimana aku akan meninggalkan rumah (tempat yang paling nyaman di hidupku) untuk beberapa hari . Dimulai dari tanggal 13 September 2013 , hari Jumat malam hari. Aku menuju tempat dimana akan melajunya mesin beroda dengan kapasitas banyak yang akan mengantarkan aku ke sebuah tempat . Berkumpul , saling mengenal, saling menyapa dan tak lama kemudian terpejamlah mata ketika berada di dalam mesin beroda itu . Aku buka mataku dan tak terasa sudah sampailah aku disebuah tempat yang menyuguhkan angin yang menusuk tulang menembus dinding-dinding lapisan bajuku . Di tengah malam aku mulai beristirahat di sebuah tempat yang bisa dikatakan tempat singgah untuk yang akan memulai pendakian .




Adzan subuh mulai terdengar, kaki , muka dan tangan mulai basah dengan air yang sepertinya sangat masih belum bersahabat degan kulit . Sholat subuh , sarapan dan berbenah barang bawaan pun selesai . Sekitar jam enam aku memulai perjalanan menuju pos Kandang Badak dari warung mang Idi melewati jalur Cibodas . Jalan bebatuan , pohon yang rindang , cuaca yang cerah pagi itu sangat mendorong semangat untuk segera sampai di tempat yang dituju . Melewati telaga, air panas, air terjun, jalan naik turun naik turun seakan membuat tubuh ini menjadi sesering mungkin beristirahat, hingga pada suatu tempat yaitu di Kandang Batu bulu seakan merinding . Dan ternyata katanya tempat tersebut merupakan tempat dimana mayat-mayat pendaki yang meninggal saat pendakian diletakan sebelum akhirnya dibawa turun ke bawah . Setelah melewati Kandang Batu akhirnya tiba di Kandang Badak . Kandang Badak inilah yang menjadi tempat untuk mendirikan tenda . Setelah mendirikan tenda akhirnya tempat ini memberikan hujan, bulir-bulir airnya membasahi daun, ranting pun dengan tenda yang aku gunakan untuk beristirahat . Semakin deras, hanya rasa dingin yang terasa, menusuk sampai ke tulang tapi tidak sampai ke hati. Sampai tiba saat magrib masih ada gerimis . Gelap mulai berteduh pada tenda, malam akan semakin larut dalam dingin . Di bawah pohon, aku merasakan tetesan air hujan tadi sore yang mungkin tertinggal di daun atau bahkan ranting pohon . Memberikan satu sentuhan kesejukan yang mendamaikan . Saat itu memang hanya alam yang sedang menemani gelap ku, dalam dekapnya yang mungkin tak akan pernah aku tahu alam berkenan atau tidak dengan kehadiranku .

Surya Kencana bersama TIGA TENDA

Berdekatan dengan Kabut (tipis)

Mencari goresan rindu di tempat ini tidak aku temukan. Tak dicari akhirnya aku mendapatkan , teman baru yang menyenangkan . Tiga tenda bergabung menjadi satu , menikmati minuman hangat, nasi serta lauknya, juga makanan ringan untuk mengisi kekosongan lambung . Setelah diberi tahu kesepakatan bahwa esok adalah pendakian sekitar pukul 03.00 maka aku segera masuk ke dalam tenda dan segera istirahat . Sleeping bag yang aku gunakan memberikan kehangatan yang cukup sama hangatnya dengan teman-teman yang baru aku kenal .

Sebelum subuh sudah terdengar suara-suara kesibukan di luar tenda, lantas aku segera bersiap-siap untuk pendakian ke puncak Gunung Gede . Untuk memulai pendakian sekitar jam 03.00 pagi ini tak lupa doa bersama . Perjalanan dari Kandang Badak untuk menuju Puncak Gunung Gede menjadi amat berat, mengingat jalan yang harus dilewati benar-benar dalam keadaan dengan kemiringan yang sangat berarti . Membuat nafas terhambat, sering beristirahat tapi tak bisa terlalu lama juga beristirahat karena khawatir akan ketinggalan dengan yang lainnya , lebih khawatir lagi jika gagal menikmati matahari terbit yang dijanjikan alam . Head lamp yang aku bawa agak kecil, sehingga sulit juga untuk melangkah dengan sinar yang kurang terang . Akhirnya sampai juga di Puncak Gunung Gede, tapi masih belum terlihat sang matahari terbit . Ini karena kabut yang mungkin menghalanginya . Ketika sampai di puncak Gunung Gede aku serta teman-teman yang lain sholat subuh. Salah satu yang tak akan pernah aku lupakan dalam pendakian ini adalah ketika sholat subuh di atas tanah dengan ketinggian 2.985 mdpl, diselimuti kabut tipis, bersaksikan embun pagi, daun yang kedinginan serta udara yang sangat menusuk . Menikmati ketinggian dengan mengabadikan lewat kamera, aku dan teman-teman masih sangat penasaran dengan hamparan padang eddelweis di Surya Kencana . Kalau pendakian lewat jalur putri maka akan melewati Surya Kencana . Namun karena jalur putri sedang ditutup karena ada perbaikan maka aku lewat jalur Cibodas yang mengharuskan melewati Puncak Gunung Gede terlebih dahulu sebelum ke Surya Kencana . Inilah Surya Kencana, hamparan bunga eddelweis membayar semua peluh dan lelah . Dari kabut masih sangat terlihat sampai sudah tidak ada lagi kabut di sana , aku menikmati karya alam ini dengan tenang . Menjadikan ini sebagai salah satu pelajaran yang sangat berharga untuk selalu bersyukur . Sepertinya sudah terlalu lama untuk di Surya Kencana akhirnya aku dan teman-teman sepakat untuk meninggalkan tempat yang indah itu , untuk selanjutnya menuju Puncak Gunung Gede . Setelah sampai di Puncak Gunung Gede lagi ternyata gulungan awan masih belum terlihat jelas . Waktu itu sudah siang, perjalanan turun ke Kandang Badak tempat tenda didirikan pun lumayan  berat . Apalagi ketika di Tanjakan Setan, tapi akhirnya aku melewati jalur alternatif karena ada salah seorang teman yang tak mau melewati Tanjakan Setan itu . Sampai di Kandang Badak mulai masak untuk makan siang, setelah perut terisi aku pun mulai siap-siap untuk turun dan meninggalkan Kandang Badak ini . Ketika akan mengambil air wudlu untuk sholat Dzuhur, tidak sengaja aku ketemu oleh salah satu teman asal Malang yang pernah mengadakan trip ke Pacitan awal tahun . Tidak menyangkan bertemu kembali di tempat yang sangat menyenangkan ini.

Perjalanan untuk turun dari Kandang Badak ini di mulai sekitar jam 14.00, dengan memutuskan untuk memakai sendal saja sebagai teman si kaki . Di tengah perjalanan, tepatnya di sekitaran Kandang Batu telapak kaki lebih tepatnya di bagian jempol terasa sekali lecet dan bengkak . Agak perih jika dipaksakan terus berjalan . Tapi karena target untuk sampai sebelum magrib akhirnya aku pun tidak terlalu banyak istirahat . Sampai di pos terkahir sekitar pukul 17.30 mungkin jika kaki ini tidak bermasalah bisa lebih cepat . Menuju Warung Mang Idi dengan ditemani gerimis . Menambah kesan bahwa malam akan semakin mengintai, mendekap, lembut seperti lembutnya tetesan air yang jatuh dari langit . Perjalanan ini pun diakhiri dengan kembali ke rumah masing-masing . Pengalaman yang menyenangkan dimana aku mendapatkan apapun di sini . Aku dapat belajar bagaimana berbagi, bertahan hidup, menikmati alam, bersyukur, yakin pada target dan optimis . Mungkin hanya satu yang belum aku dapatkan dalam pendakian ini . J-o-d-o-h .

Kesandung di Pulau Tidung

Selamat datang Cobra !!!


Hai pembaca semuanya .. Kali ini gue akan sedikit bercerita (kalo banyak nanti pembaca merasa bosan lagi yah, atau gue yang merasa capek) tentang sebuah perjalan gue bersama Cobra . Ah sudah tidak asing lah di telinga kalian tentang Cobra ini . Kalau kalian sering membaca blog ini pasti sudah tau apa dan siapa itu Cobra . Untuk kalian yang belum tahu siapa itu Cobra silahkan sejenak membaca-baca blog gue di bagian yang ada kata-kata Cobra nya . Ah sudah cukup bercerita tentang Cobra nya, ini kapan cerita nya yeuh . Ok mulai , loh daritadi juga udeh mulai kali . Ok ini beneran dimulai ceritanya . Jadi gini, pertengahan tahun 2011 (duh udeh basi juga ya diceritain tahun 2013), gue dan Cobra punya niat untuk mengisi waktu luang yang sebenarnya kebanyakan waktu luang dibanding waktu yang diisi *apasih, ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu , Pulau Tidung . Sehari sebelum pergi kesana gue dan beberapa anak-anak Cobra mencoba survey lokasi di Muara Angke supaya tahu kapal ke Pulau Tidung itu adanya jam berapa . Setelah mendapatkan informasi yang cukup akhirnya gue dan teman-teman yang tadi pulang ke Depok (lah rumah lo kan di Bekasi Mal), iya karena gue akan nebeng sama temen gue yang kebetulan motornya dia ada di Depok . Sampe lah gue di Bekasi (biar cepet lah yah). Setelah packing dan mempersiapkan diri (tidur misalnya), jam 04.00 (belum subuh kalo di Bekasi sih) HP gue udah rame sama tlp dari anak-anak Cobra . Tapi apa boleh buat dong, mata masih terasa ngantuk . Tapi akhirnya terbangun juga setelah mendengar kabar bahwa NaOH (teman se-Kota gue) udah sampe depan rumah #huft lah yah . Gue dan NaOH menuju Depok untuk kumpul di kosan (kosan siapa Mal ? engga tau ah nanya mulu, yang pasti itu di Depok) . Setelah sholat subuh, gue dan Cobra (yang ikut sih Cuma Ambar, Fariz, NaOH, Bulp, Rammad, Akbar, Saepi, Udin) berangkat menuju Pasar Rebo, selanjutnya menuju muara angke dengan kendaraan umum dan padatnya kendaraan di Ibu Kota Jakarta ini (yang kata orang sih Ibu Kota lebih kejam daripada Ibu Tiri #terlalu), ini menjadikan gue dan Cobra telat sampai Muara Angke. Kapal (eh kapal apa perahu sih itu namanya , ya itulah yah) akan berangkat jam 07.00 tapi gue dan Cobra baru sampai di Muara Angke sekitar jam 07.30 . Duh panik banget deh waktu itu . Antara jadi berangkat ke Pulau Tidung, ganti tujuan ke Pulau lain , atau malah balik lagi pulang ke Bekasi . Akhirnya gue dan Cobra mencoba dengan sekuat tenaga agar kapal itu tidak terlalu jauh . Singkat cerita kapal yang sudah pergi meninggalkan Muara Angke yang belum terlalu jauh akhirnya balik lagi ke Muara Angke (keren kan ? engga Mal biasa aja -__-).  Sungguh besar sekali karunia yang Allah SWT berikan yah teman-teman (bukan ceramah) . Kapal goyang kapten , ombak kencang, kepala pusing dan pengen muntah, mabok laut sepertinya (ga papalah yah daripada mabok janda *apatau) . Oh ya, waktu itu harga untuk sampai di Pulau Tidung dari Muara Angke sekitar Rp 37.000 (ya pokoknya ga sampai Rp 40.000 itu sih tahun 2011 ya :p) . Setelah tiga jam terombang-ambing di lautan akhirnya penderitaan gue berakhirnya juga . 


Luntang-lantung nyari tempat berteduh *huft

Kecapean aja masih teteup eksis

Tanpa NaOH

Senja




Pulau Tidung........yang terlintas cuma satu setelah gue dan Cobra sampai di tempat tujuan kami yaitu “kita bakal tidur dimana?” . Biasanya kalau jalan dengan anak-anak Cobra kita lebih memilih serba dadakan, entahlah ini yang di sebut orang-orang dengan isitilah Backpackeran atau ngebolang. Turun dari kapal bersama beberapa orang yang gue juga tidak mengenalnya . Sampai orang itu sudah masuk ke dalam homestay mereka dan sepi, kami pun masih keliling pulau, luntang-lantung mencari tempat untuk berteduh (*tsaaaah) . Setelah mengitari pulau akhirnya kami mendapat homestay yang murah meriah sesuai dengan kantong anak kuliah di Depok (lah emg beda anak kuliah di Depok atau di Bogor *entahlah) . Siang sangat terasa panas , akhirnya gue dan Cobra hanya menikmati kesejukan AC di dalam kamar (bukan kamar mandi apalagi kamar mayat #garing lo Mal). Sore telah tiba, berharap menikmati senja di pulau ini . Gue dan Cobra pun melangkah untuk segera mendekati senja , walau yang lain banyak yang naik sepeda kami tetap jalan kaki . Tiba di tempat yang sangat indah, lebih indah lagi ada ubur-ubur di sekitaran situ . Selesai dan puas menikmati senja, gue dan Cobra kembali ke homestay . Malam pun terasa gelap dan sepi . Ada beberapa warga yang menyarankan tidak keluar rumah pada malam hari . Gue sih tetep di homestay, tapi ternyata setelah gue tidur pulas beberapa anak-anak Cobra malah keuar homestay main-main di pantai *huft banget . 


Tertawa bersama

Di Jembatan Cinta *ngeaaa

Iya , gue tau sendalnya jelek -__-

Keren kan ?

Ini baru COBRA

Bening




Pagi Pulau Tidung, gue dan Cobra mencari sarapan di sekitaran homestay . Tak sulit untuk mendapatan nasi uduk di sini . Karena Pulau Tidung sudah ramai dan berpenghuni, ada sekolah , ada Masjid, ada banyak sepeda bahkan motor (tapi gue gatau di situ banyak jomblo apa engga). Cuma yang engga ada sih mobil , soalnya selama di sana gue nyari-nyari mobil atau angkot aja engga ada . Selesai sarapan gue dan Cobra (kecuali NaOH, karena NaOH lebih memilih tidur di homestay daripada ikut menikmati pantai) menuju Jembatan Cinta . Keren kan teman se-Kota gue itu (NaOH) yang lain kalo mau jalan-jalan yaa nikmatin fasilitas yang disediakan lah dia malah tidur di kamar ber-AC (eh itu juga salah satu bentuk nikmatin fasilitas yah) , ah sudah jangan ngomongin NaOH, emang manusia paling beda dia sih . Gue kira NaOH bakalan nyusul kita ke jembatan cinta eh ternyata dia tetep banget ke Pulau Tidung cuma buat tidur . Adakah teman kalian yang lagi liburan gini Cuma tidur di homestay ? 



Jalan lurus menuju Pulau Tidung Kecil






Kisah Si Alay dan Tukang Pel Kapal

Bersiap kembali ke habitat semula



Singkat cerita (daritadi singkat mulu), gue dan Cobra balik ke Depok dari Muara Angke . Apapun tujuannya Depok selalu menarik gue buat kembali. Entah karena kampus gue di situ, entah karena gue nebeng temen se-Kota gue . Bukan apa apa dari Pulau Tidung, hanya saja kebersamaan yang selalu melahirkan gelak tawa . Sekian . Terimakasih