Alam yang mulai menarik pikiran dan hati untuk selalu ingin lebih dekat dengannya . Lalu dengan keberanian yang mungkin seadanya telah sampai pada hari dimana aku akan meninggalkan rumah (tempat yang paling nyaman di hidupku) untuk beberapa hari . Dimulai dari tanggal 13 September 2013 , hari Jumat malam hari. Aku menuju tempat dimana akan melajunya mesin beroda dengan kapasitas banyak yang akan mengantarkan aku ke sebuah tempat . Berkumpul , saling mengenal, saling menyapa dan tak lama kemudian terpejamlah mata ketika berada di dalam mesin beroda itu . Aku buka mataku dan tak terasa sudah sampailah aku disebuah tempat yang menyuguhkan angin yang menusuk tulang menembus dinding-dinding lapisan bajuku . Di tengah malam aku mulai beristirahat di sebuah tempat yang bisa dikatakan tempat singgah untuk yang akan memulai pendakian .
Adzan subuh mulai terdengar, kaki ,
muka dan tangan mulai basah dengan air yang sepertinya sangat masih belum
bersahabat degan kulit . Sholat subuh , sarapan dan berbenah barang bawaan pun
selesai . Sekitar jam enam aku memulai perjalanan menuju pos Kandang Badak dari
warung mang Idi melewati jalur Cibodas . Jalan bebatuan , pohon yang rindang ,
cuaca yang cerah pagi itu sangat mendorong semangat untuk segera sampai di
tempat yang dituju . Melewati telaga, air panas, air terjun, jalan naik turun
naik turun seakan membuat tubuh ini menjadi sesering mungkin beristirahat, hingga
pada suatu tempat yaitu di Kandang Batu bulu seakan merinding . Dan ternyata
katanya tempat tersebut merupakan tempat dimana mayat-mayat pendaki yang
meninggal saat pendakian diletakan sebelum akhirnya dibawa turun ke bawah .
Setelah melewati Kandang Batu akhirnya tiba di Kandang Badak . Kandang Badak
inilah yang menjadi tempat untuk mendirikan tenda . Setelah mendirikan tenda
akhirnya tempat ini memberikan hujan, bulir-bulir airnya membasahi daun,
ranting pun dengan tenda yang aku gunakan untuk beristirahat . Semakin deras,
hanya rasa dingin yang terasa, menusuk sampai ke tulang tapi tidak sampai ke
hati. Sampai tiba saat magrib masih ada gerimis . Gelap mulai berteduh pada
tenda, malam akan semakin larut dalam dingin . Di bawah pohon, aku merasakan
tetesan air hujan tadi sore yang mungkin tertinggal di daun atau bahkan ranting
pohon . Memberikan satu sentuhan kesejukan yang mendamaikan . Saat itu memang
hanya alam yang sedang menemani gelap ku, dalam dekapnya yang mungkin tak akan
pernah aku tahu alam berkenan atau tidak dengan kehadiranku .
Mencari goresan rindu di tempat ini
tidak aku temukan. Tak dicari akhirnya aku mendapatkan , teman baru yang
menyenangkan . Tiga tenda bergabung menjadi satu , menikmati minuman hangat,
nasi serta lauknya, juga makanan ringan untuk mengisi kekosongan lambung .
Setelah diberi tahu kesepakatan bahwa esok adalah pendakian sekitar pukul 03.00
maka aku segera masuk ke dalam tenda dan segera istirahat . Sleeping bag yang aku gunakan memberikan
kehangatan yang cukup sama hangatnya dengan teman-teman yang baru aku kenal .
Sebelum subuh sudah terdengar
suara-suara kesibukan di luar tenda, lantas aku segera bersiap-siap untuk
pendakian ke puncak Gunung Gede . Untuk memulai pendakian sekitar jam 03.00
pagi ini tak lupa doa bersama . Perjalanan dari Kandang Badak untuk menuju
Puncak Gunung Gede menjadi amat berat, mengingat jalan yang harus dilewati
benar-benar dalam keadaan dengan kemiringan yang sangat berarti . Membuat nafas
terhambat, sering beristirahat tapi tak bisa terlalu lama juga beristirahat
karena khawatir akan ketinggalan dengan yang lainnya , lebih khawatir lagi jika
gagal menikmati matahari terbit yang dijanjikan alam . Head lamp yang aku bawa agak kecil, sehingga sulit juga untuk
melangkah dengan sinar yang kurang terang . Akhirnya sampai juga di Puncak
Gunung Gede, tapi masih belum terlihat sang matahari terbit . Ini karena kabut
yang mungkin menghalanginya . Ketika sampai di puncak Gunung Gede aku serta
teman-teman yang lain sholat subuh. Salah satu yang tak akan pernah aku lupakan
dalam pendakian ini adalah ketika sholat subuh di atas tanah dengan ketinggian
2.985 mdpl, diselimuti kabut tipis, bersaksikan embun pagi, daun yang
kedinginan serta udara yang sangat menusuk . Menikmati ketinggian dengan
mengabadikan lewat kamera, aku dan teman-teman masih sangat penasaran dengan
hamparan padang eddelweis di Surya Kencana . Kalau pendakian lewat jalur putri
maka akan melewati Surya Kencana . Namun karena jalur putri sedang ditutup
karena ada perbaikan maka aku lewat jalur Cibodas yang mengharuskan melewati
Puncak Gunung Gede terlebih dahulu sebelum ke Surya Kencana . Inilah Surya
Kencana, hamparan bunga eddelweis membayar semua peluh dan lelah . Dari kabut
masih sangat terlihat sampai sudah tidak ada lagi kabut di sana , aku menikmati
karya alam ini dengan tenang . Menjadikan ini sebagai salah satu pelajaran yang
sangat berharga untuk selalu bersyukur . Sepertinya sudah terlalu lama untuk di
Surya Kencana akhirnya aku dan teman-teman sepakat untuk meninggalkan tempat
yang indah itu , untuk selanjutnya menuju Puncak Gunung Gede . Setelah sampai
di Puncak Gunung Gede lagi ternyata gulungan awan masih belum terlihat jelas .
Waktu itu sudah siang, perjalanan turun ke Kandang Badak tempat tenda didirikan
pun lumayan berat . Apalagi ketika di
Tanjakan Setan, tapi akhirnya aku melewati jalur alternatif karena ada salah
seorang teman yang tak mau melewati Tanjakan Setan itu . Sampai di Kandang
Badak mulai masak untuk makan siang, setelah perut terisi aku pun mulai
siap-siap untuk turun dan meninggalkan Kandang Badak ini . Ketika akan
mengambil air wudlu untuk sholat Dzuhur, tidak sengaja aku ketemu oleh salah
satu teman asal Malang yang pernah mengadakan trip ke Pacitan awal tahun .
Tidak menyangkan bertemu kembali di tempat yang sangat menyenangkan ini.
Perjalanan untuk turun dari Kandang
Badak ini di mulai sekitar jam 14.00, dengan memutuskan untuk memakai sendal
saja sebagai teman si kaki . Di tengah perjalanan, tepatnya di sekitaran
Kandang Batu telapak kaki lebih tepatnya di bagian jempol terasa sekali lecet
dan bengkak . Agak perih jika dipaksakan terus berjalan . Tapi karena target
untuk sampai sebelum magrib akhirnya aku pun tidak terlalu banyak istirahat .
Sampai di pos terkahir sekitar pukul 17.30 mungkin jika kaki ini tidak
bermasalah bisa lebih cepat . Menuju Warung Mang Idi dengan ditemani gerimis .
Menambah kesan bahwa malam akan semakin mengintai, mendekap, lembut seperti
lembutnya tetesan air yang jatuh dari langit . Perjalanan ini pun diakhiri
dengan kembali ke rumah masing-masing . Pengalaman yang menyenangkan dimana aku
mendapatkan apapun di sini . Aku dapat belajar bagaimana berbagi, bertahan
hidup, menikmati alam, bersyukur, yakin pada target dan optimis . Mungkin hanya
satu yang belum aku dapatkan dalam pendakian ini . J-o-d-o-h .




