Terakhir kudapati dia tengah asik
meracau serta bernyanyi riang dalam harmoni nada yang lumayan berantakan . Aku
tau, dia tak bisa nyanyi, suaranya fals . Sementara kami duduk berhadapan di
kedai kopi, dia pun tangkas melontarkan lelucon menggelikan diselipi obrolan
menyangkut hati dengan telaah dan cukup tajam . Kami sering menghabiskan waktu
di kedai kopi untuk sekedar bertemu melepas penat setelah seharian melakukan
pekerjaan yang monoton dan membosankan . Aku tau dia sangat menyukai kopi,
apapun jenisnya . Aku juga tau dia tidak bisa menegak kopi, walau hanya
secangkir, sebab ruang di lambungnya masih belum juga bisa berdamai dengan kopi
.
Malam terasa makin riang, tak beda jauh
dengan suasana hati pengunjung, termasuk aku . Aku merasa senang bisa bertemu
dengannya di kedai kopi . Aku tau dia mengajakku ke sini hanya untuk bisa
menikmati harum kopi yang ku pesan . Sekedar menikmati harum kopi saja sudah
lebih dari cukup, menikmati coklat panas sudah cukup menyenangkan . Begitu dia
bercerita setiap ke kedai kopi ini .
Di kedai kopi itu kami memang tak
pernah menemui senja yang murung dan pendiam . Selalu riuh penuh daya membuat
malam seakan tergesa memburu pagi . Beruntung tempat itu agak renggang dari
permukiman hingga tak mengundang gesekan . Aku tau, dia tau tentang perasaan
yang entah mengapa sudah lama ada di hati ini . Aku tau, dia sangat mendambakan
sesosok pria dan yang pasti bukan aku, kenalannya yang baru dua bulan terakhir
ini dekat dengannya . Aku tau, dia mengerti tentangku yang selalu meradang
ketika menikmati senyumnya .
“Bagaimana pria yang sedang mendekatimu
dua bulan terakhir itu?”, tanyaku.
“Ah, biasa saja”, jawabnya dengan
singkat.
“Apa tidak tertarik ada pria itu?”, tanyaku lagi .
“Aku capek membunuh kecewa pada
kehidupan percintaan yang sudah terlanjur berantakan ini, sementara setelah
sadar kenangan perih itu kembali menghantui”, dengan lirih dia berkata .
Setelah itu tak ada lagi percakapan aku
dan dia di malam itu. Beberapa saat kami saling hening. Dia terdiam dengan
pikirannya sendiri, aku pun membisu karena tak ingin membuatnya kurang nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar