Untuk Pria Berkemeja Putih
Di ruang tamu tersedia dua cangkir teh hangat lengkap dengan kue yang manisnya lebih manis daripada teh hangat itu.
Di luar hujan deras.
Di diriku ada magnet dari kamu yang menarik aku untuk berdiskusi denganmu.
Kali ini tentang buku. Setelah kamu dapati aku sedang membawa buku favoritku. Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.
Kamu mulai dengan cerita sewaktu kamu mencari buku-buku Pram. Kamu mencari sebelum reformasi, baru kamu temukan di social agency Jogja. Buku-buku terlarang katamu banyak dijual di sana. Terakhir tahun 2000an katamu buku-buku Pram sudah dijual bebas, kecuali satu judul Bukan Pasar Malam. Kamu juga melanjutkan ceritamu, sambil sesekali meneguk teh hangat itu. Waktu kuliah dulu memang pikiranmu pro ke kiri. Pram, Tan Malaka, Nitzche, Cumus dll. Kamu mengalami pergumulan pemikiran mereka.
Aku minum teh hangatku, tak ku habiskan karena aku tahu kita akan banyak bercerita. Benar saja kamu lanjut bercerita tentang buku-buku sufi. Katamu semua itu proses perjalanan hidup.
Aku masih ingat saat kamu melanjutkan ceritamu katamu dalam studi linguistik itu ada yang disebut analisis wacana atau dalam studi sosial agama disebut hermenetik.
Dan kamu tahu, aku pun selalu ingat katamu kenikmatan pembaca adalah saat bisa menyelami opini yang ingin diteriakan oleh penulis itu nikmat sekali. Lalu kita paham konteks sosio kultur saat dia menulis itu, kondisinya seperti apa. Kita bisa menangis, bisa tertawa, bisa melamun berhari-hari atau bisa tiba-tiba ada di jalan, di stasiun kereta. Hanya ikut merasakan hati dan pikiran penulis. Katamu sama seperti ketika kamu membaca narasi cintanya Gibran. Itu persis seperti orang ditolak cinta. Sakit. Perih.
Ternyata teh hangatku sudah habis.
Aku menantikan saat-saat diskusi bersamamu lagi.
Untuk sekian kalinya aku mengucapkan terimakasih tentang segala pernah.
Dari,
Teman diskusimu saat hujan
Tiap hari jadi keterusan baca suratnya nih :)
BalasHapusTerimakasih
BalasHapus