Nirmala

Sabtu, 19 September 2015

Ruang Momen dan Luka

Bukan tentang rindu yang tak sengaja aku balut dengan pilu atau tentang kita yang sama-sama melankolis, sama-sama menganggap semua benda menjadi puitis.
Aku pastikan tulisan ini bukan tentang senja yang terlalu jingga yang saat itu tidak sempat kita nikmati bersama.

Stasiun.
Mungkin bagi sebagian orang ruang itu menjadi saksi bisu kebahagiaan atau kesedihan. Sebab selalu ada kata perpisahan setelah kata pertemuan.
Stasiun yang ternyata menghadirkan pelbagai peristiwa yang sekelebat bertungkus-lumus kepada pengunjungnya.

Rel, peron, gerbong, ruang tunggu, loket, KRL, bunyi bel yang khas seakan ingin membawa aku masuk silih berganti ke dalam ruang dan waktu serta suasana yang silih berganti dari bahagia, sedih, terharu, tersenyum dalam kesedihan atau sedih dalam senyuman.

Malam percaya bahwa kesedihan di tengah kepadatan bukan hanya tentang kesendirian. Ia berdua bersama luka yang memdalam. 

Minggu, 02 Agustus 2015

Sesak

Tak pernah sekali pun aku rasakan keadaan ini.
Bagaiman mungkin aku membenci tentang keputusanku. 
Bukan. 
Bukan hanya itu. Aku sudah kecewa dengan diriku sendiri. 

Lantas bagaimana?
Aku tak tahu harus apa dan harus bagaimana.
Tentang perasaan yang sudah lama. 
Tentang pertemuan yang tak pernah membuat kecewa.
Tentang hati yang siap untuk terluka.

Aku ingin menjawab segala tanya yang dibuka dengan kata kenapa.
Tapi yang ku tahu kau tak pernah bertanya kenapa atau alasannya apa. Barangkali sudah terlanjur tak peduli atau terlalu kecewa. Tapi ku tasa kau tak mungkin kecewa. Prasangka apa pula yang ku tuliskan di tengah malam begini. 

Tapi bagaimana pun pada akhirnya selali ada hati yang entah dipaksa atau dengan ikhlas menerima.


-I wonder if you know.. Suddenly you changed my mind-


Agustus
Tengah Malam
Sesak

Nirmala H

Kamis, 16 Juli 2015

Takbir

"Suara takbir berkumandang seantero negeri"


Kalimat itu kau rangkai beberapa tahun lalu. Tugasku mengetik pesan singkat tersebut dengan beberapa kalimat tambahan permohonan maaf juga di akhir kalimat yang masih ku hafal "dari hamba-Nya yang berlumuran dosa". Aku sebarkan kepada saudara, kerabat dan rekan kerja yang ada dikontak ponselnya.

Dua kali lebaran sudah. Tak ada yang menyuruhku untuk melakukan hal itu. Tahun lalu karena kau sakit dan tahun ini karena kau telah tiada.

Malam takbir tahun ini berbeda dengan tahun lalu.
Kali ini aku masih bisa menulis di blog. Berkumpul dengan saudara, makan ketupat, rendang, opor, berkunjung ke rumah saudara dan ku pastikan tak ada air mata. Walau rindu masih terus bertambah setiap harinya. Sesekali aku lihat ponselku yang penuh dengan kalimat copy-paste tentang ucapan selamat dan permohonan maaf. Nanti saja ku balas atau mungkin besok.

Malam takbir tahun lalu.
Aku melihat kau terbaring lemah tak berdaya. Badanmu masih terlihat gemuk tak terlihat seperti orang sakit dan memang kau tak sakit secara fisik.
Aku bacakan ayat-ayat suci Al-Quran. Lalu aku lihat kau agak tenang.
Al-Baqarah.
Malam itu aku tidak tidur. Menemanimu semalaman. Sampai pada adzan subuh berkumandang aku baru terlelap dan tak sempat sholat Ied seperti kebanyakan orang yang datang pagi-pagi dengan baju baru atau mukena/sarung baru.

Tadi sore sebelum aku membeli bunga untuk besok ku pasang lagi bingkai foto di kamar. Setelah beberapa bulan lalu ku taruh di lemari.

Banyak yang merindukan.
Semoga kelak di tempat yang kekal kita dipertemukan.
Selamat Takbiran.
Selamat Lebaran.



Bekasi, 29 Ramadhan 1436 H
Nirmala Hapsari

Senin, 01 Juni 2015

Everything Just Blends into a Perfect Harmony

Ada orang-orang yang bersikeras mempertahankan kenangan
dan stasiun ini seolah diperuntukan bagi orang-orang seperti itu.
Nyaris tak ada yang berubah.
Peron, gerbong kereta, loket, toilet, musholla, minimarket dan ruang tunggu.

Bertahun lalu, tempat ini menjadi titik temu kita. Entah kenapa kali ini kamu memilih tempat ini lagi.

Ramai.
Dengan kondisi seperti ini pun aku masih bisa mengenalimu dari kejauhan di balik badanmu.

Hingga sampai sekarang, saat aku menulis ini, aku tidak tahu, masih tidak paham, kenapa tuhan masih mempertemukan kita untuk kali yang sekian. Padahal dulu ketika pertama kali bertemu, namamu saja aku tak tahu.

Lantas, apa yang kita tuntut dari sebuah pertemuan?
Pertemuan berikutnya dengan (tak) ada harap?

Ditelingaku,
segala diammu terdengar lebih merdu,
syahdu.

Dimataku,
wajah dinginmu masih jauh lebih indah dibanding warna senja di pantai manapun.

Kita mungkin sedang saling menunggu sebuah pertanyaan atau pernyataan. Yang kita sendiri sudah sulit untuk membedakan.

Tapi kita sudah terlanjur percaya pada diam kita masing-masing.
Kita juga percaya bahwa diam kita sebenarnya saling bercerita, saling bercengkrama.

Kita sampai pada tempat yang membuat kita tersesat untuk sampai.
Kerumunan kecil, tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Sekedar menikmati churros green tea dan es jeruk. Menyenangkan.

Hingga akhirnya kita sama-sama memikirkan tentang doa saat kita dipertemukan akankah tuhan menghentikan waktu yang terus berjalan dan terasa cepat.

Dalam lamunanku setelah kita dipisahkan oleh kereta yang berhenti di salah satu stasiun, 'tidak ada puisi untuk kita malam ini, ada saatnya pertemuan harus kita lewati tanpa indahnya metafora apa pun. 

Kamis, 09 April 2015

Ketidakmungkinan

Ketidakmungkinan yang aku selipkan sendiri di dalam kata harap
Bukankah tuhan tak pernah ingkar dan tak pernah ada kata ketidakmungkinan itu?
Tapi aku sendiri yang membuatnya ada

Aku membuatnya masuk, menyelinap, lalu melapisi setiap detail-detail kata harap
Apa aku terlalu buruk untuk harap itu?
Aku rasa

iya

Aku membuatnya semakin banyak
Kata itu semakin banyak
Semakin menumpuk
Semakin tak tahu harus ku letakkan dimana
Dimana-mana ada kata itu

Sekarang

Ketidakmungkinan ada
Bukan hanya pada kata harap
Bukan hanya pada kata kita
Bukan pula menyoal tentang jarak

Perihal aku yang membuatnya menghadirkan kata

Ketidakmungkinan

Terlebih ketika aku tak berjarak dengan kamu
Kata itu selalu ada


Jakarta, April 2015
Nirmala Hapsari

Jumat, 06 Februari 2015

Untuk Tuan Kazıklı Voyvoda

Untuk Tuan Kazıklı Voyvoda,

Dengan kesadaranku sendiri, kali ini aku yakini tuan. Benar tuan, ini adalah surat terakhir yang aku tulis untuk tuan.
Sesekali nafasku sesak melihat keadaan yang tak semestinya.

Memusatkan semua perhatianku pada tuan membuat aku semakin menggila tuan.
Aku menyerah pada titik ini.
Titik dimana aku sudah tidak bisa menerima lagi siapa-siapa yang ingin mencoba bersama ku.

Tenang tuan.
Aku tak akan mengganggumu dengan surat-surat ku.
Karena ada salah seorang sahabatmu berkabar padaku.
Bahwasanya tuan merasa terganggu akan kehadiran surat-surat dari ku.

Selamat berbahagia ya tuan,
ku dengar sebentar lagi tuan akan membawa putri entah dari negeri mana untuk dikenalkan pada orang tua tuan.
Selamat.
Padahal aku setiap hari berdoa supaya tuan hendak memperkenalkan aku pada orang tua tuan.
Tapi tak apa-apa

Kini aku punya kata-kata sakti
yang aku lafalkan setiap hari



Aku tak ingin mencintaimu 
Aku tak ingin mencintaimu
Aku tak ingin mencintaimu

Aku tak pernah lupa kata-kata itu
Dari,

Putri Nirmala (Negeri Sebelah Tuan)

Rabu, 04 Februari 2015

Teh Manis Hangat Pagi ini #30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-7


Kepada Pria yang Takut Tehnya Habis,

Pagi ini

Aku memikirkan akan hangatnya senyummu
Teduhnya wajahmu
Tak beraturannya rambutmu
Serta tajamnya tatapan matamu

Di ruang yang luas ini

Aku menyulam harapan
Akan sebuah kebersamaan
Bersama ganjilnya perasaan

Masih di pagi ini

Aku masih memunguti huruf yang berserakan di lantai
Aku tahu saat ini kamu senang menyendiri ke pantai
Serta segala harap membuat tubuhku gontai

Masih di ruang yang luas ini

Aku rasa surat ini mengandung hukum kontradiksi yang bagus
Yang suatu pernyataan tidak mungkin benar dan salah sekaligus

Masih di pagi dan di ruang yang luas ini

Aku nikmati sentuhan jemariku di dinding luar cangkir teh manis panas berwarna putih
Mataku masih terpaku akan gambar wajahmu di samping cangkir teh manis panas ini
Apa yang terjadi?
Aku menemukan jawaban dari segala yang tak pernah aku pertanyakan di sudut hatiku

Dari,
Penikmat Teh Manis Hangat Pagi ini