Nirmala

Senin, 18 November 2013

Kedai Kopi



Terakhir kudapati dia tengah asik meracau serta bernyanyi riang dalam harmoni nada yang lumayan berantakan . Aku tau, dia tak bisa nyanyi, suaranya fals . Sementara kami duduk berhadapan di kedai kopi, dia pun tangkas melontarkan lelucon menggelikan diselipi obrolan menyangkut hati dengan telaah dan cukup tajam . Kami sering menghabiskan waktu di kedai kopi untuk sekedar bertemu melepas penat setelah seharian melakukan pekerjaan yang monoton dan membosankan . Aku tau dia sangat menyukai kopi, apapun jenisnya . Aku juga tau dia tidak bisa menegak kopi, walau hanya secangkir, sebab ruang di lambungnya masih belum juga bisa berdamai dengan kopi .

Malam terasa makin riang, tak beda jauh dengan suasana hati pengunjung, termasuk aku . Aku merasa senang bisa bertemu dengannya di kedai kopi . Aku tau dia mengajakku ke sini hanya untuk bisa menikmati harum kopi yang ku pesan . Sekedar menikmati harum kopi saja sudah lebih dari cukup, menikmati coklat panas sudah cukup menyenangkan . Begitu dia bercerita setiap ke kedai kopi ini .

Di kedai kopi itu kami memang tak pernah menemui senja yang murung dan pendiam . Selalu riuh penuh daya membuat malam seakan tergesa memburu pagi . Beruntung tempat itu agak renggang dari permukiman hingga tak mengundang gesekan . Aku tau, dia tau tentang perasaan yang entah mengapa sudah lama ada di hati ini . Aku tau, dia sangat mendambakan sesosok pria dan yang pasti bukan aku, kenalannya yang baru dua bulan terakhir ini dekat dengannya . Aku tau, dia mengerti tentangku yang selalu meradang ketika menikmati senyumnya .

“Bagaimana pria yang sedang mendekatimu dua bulan terakhir itu?”, tanyaku.

“Ah, biasa saja”, jawabnya dengan singkat.

 “Apa tidak tertarik ada pria itu?”, tanyaku lagi .

“Aku capek membunuh kecewa pada kehidupan percintaan yang sudah terlanjur berantakan ini, sementara setelah sadar kenangan perih itu kembali menghantui”, dengan lirih dia berkata .

Setelah itu tak ada lagi percakapan aku dan dia di malam itu. Beberapa saat kami saling hening. Dia terdiam dengan pikirannya sendiri, aku pun membisu karena tak ingin membuatnya kurang nyaman.


Belum Datang Juga ..

Hujan , kapan kamu datang ?
Mendung berbicara pada ku sejak tadi
Mendung bilang , kamu mau datang secepatnya
Secepat aku yang merindukan mu , hujan

Hujan , aku menyesap pesona senja yang tak sempurna
Saat itu senja tak seindah biasanya
Lalu senja bercerita pada ku
Senja bilang , ia rela meruntuhkan warnanya yang indah
Melarutkannya dalam goresan awan yang gelap , hujan

Hujan , belum , datang , juga

Aku mulai merayap perlahan, menggerogoti semua harapan secara perlahan

Hujan , masih , belum , datang , juga

Aku mulai mengisi harapan dengan kepuasan dalam pikiran
Bahwa tak selamanya mendung itu menandakan hujan
Bahwa tak selamanya senja tak indah itu akan datang kamu , hujan

Sampai Kapan ?

Sampai kapan aku bersembunyi seperti ini ?
Mungkin sampai kau menemukan aku

Sampai kapan aku bersedih seperti ini ?
Mungkin sampai aku bisa bahagia dengan diriku sendiri

Sampai kapan aku menikmatimu dalam mimpi ?
Mungkin sampai kau membangunkanku dari mimpi

Sampai kapan aku bertanya dalam diam seperti ini ?
Mungkin sampai kau menjawab tanpa aku bertanya

Sampai kapan aku berpura-pura tidak peduli ?
Mungkin sampai kau benar-benar peduli

Sampai kapan aku mendengarkan lagu-lagu itu ?
Mungkin sampai kita bernyanyi bersama lagi

Sampai kapan aku menunggumu di sini ?
Mungkin sampai kau akan kembali ke kota ku lagi

Sampai kapan aku berhenti mencintaimu ?
Mungkin sampai tuhan memanggilku

Sampai kapan aku bertanya dan menjawab pertanyaanku sendiri ?

Senin, 04 November 2013

Ada suara di dalam suara

Suara air memecah kesunyian malam
Suara hati memecah kesepian yang mendalam

Suara angin melarutkan keheningan jiwa
Suara kamu didambakan aku yang bernyawa

Suara jangkrik meragukan perjalanan panjang
Suara ombak meneruskan langkah yang sempat terhalang

Suara musik terdengar selalu asik
Suara kekecewaan berteriak semakin terusik

Suara daun jatuh menghentikan derita
Suara harapan meneruskan cerita

Suara hujan menenangkan penantian
Suara matahari menguatkan perhatian

Suara lelah mengeluarkan keluhan
Suara sendiri menginginkan kehadiran

Segelas Larutan Kekecewaan

Kecewa , Kesal , marah , muak seperti tercampur jadi satu bagai
larutan tanpa endapan yang tersimpan dalam satu gelas kaca

Mungkin lebih tepat menangis sekuat-kuatnya , agar segala sedih dapat
menguap dengan cepat , secepat larutan volatile

Lalu cepat bawa aku ke Cappadocia, karena disana mungkin aku bisa
menyentuh awan di atas balon udara dan bisa ku jatuhkan segala
butiran-butiran lara ini ke bawah

Atau bawa aku ke negeri yang katanya banyak bunga tulip di sana
Biar aku bisa menari bersama indahnya tulip yang berwarna-warni

Kabut Tipis

Sebuah tempat yang sangat manis
Untuk menuju ke sana terhalang kabut tipis
Ah tak mengapa.. Asal aku 'tak menangis
Malam yang menjelang pagi itu 'tak ada yang meringis
Walau hutan menyambut dengan gerimis
Dan percakapan tentang hati yang semakin tiris
Bagaimana dengan cinta yang mungkin 'tak kau tepis ?
Lalu apakah rindu ini akan segera habis ?

19 Oktober 2013

Minggu, 22 September 2013

Ikan Teri

Aku anak negeri
Yang sering menangis dan merintih
Karena penghasilan 'tak mencukupi
Untuk kebutuhan sehari-hari
Kadang pagi makan puasa siang dan malam hari
Itu pun dengan lauk hanya beberapa lembar ikan teri
Karena jatahku sebagai anak negeri
Banyak dikebiri dan dikorupsi

Wahai ....
pegawai negeri
TNI
Polisi
DPR-DPR RI
dan penguasa bumi pertiwi
Janganlah engkau pada korupsi
Kalau kau korupsi rakyat akan membenci
Mungkin di dunia kau tidak tertangkap polisi
Atau bahkan tak masuk jeruji besi
Tapi ingat suatu saat kau akan mati

Di dalam kubur kau sendiri
'Tak ada yang menemani
Ada malaikat munkar nakir kau tak bisa lari
Api neraka siap menanti
Itu pasti .....

 Umar Jaya Santika (Umar Santoso)