Nirmala

Kamis, 27 Februari 2014

Hari Ke-28 30 Hari Menulis Surat Cinta - Mencari Jalan

Apa yang aku cari hari ini dan seterusnya?
Jika aku adalah air aku akan mencari jalan untuk mengalir

Apa yang aku cari hari ini dan seterusnya?
Jika aku adalah matahari aku akan mencari awan untuk menghalangiku ketika ku bersedih

Apa yang aku cari hari ini dan seterusnya?
Jika aku adalah perahu kayu aku akan mencari aliran yang konstan dan tak liar arusnya

Apa yang aku cari hari ini dan seterusnya?
Jika aku adalah bunga aku akan memberikan warna setiap harinya

Apa yang aku cari hari ini dan seterusnya?
Jika aku adalah kekasihmu aku tak akan mencari lagi

Dari seorang pencari usang


Hari Ke-27 30 Hari Menulis Surat Cinta - Yang Masih Dirahasiakan



Kepada Yang Terhormat Calon Imamku (yang masih dirahasiakan),

Jika aku salah dan masih belum pantas menjadi yang kamu harapkan aku akan bersabar dengan terus memperbaiki diri. Namun aku tau, aku hanya manusia yang tak luput dari dosa dan jauh dari sempurna.

Kelak nanti kau ada, menjadi yang berdiri di depanku dengan memulai takbir dan diakhiri dengan salam, mengajariku membaca Al-QurĂ¡n. Berusaha menjaga jalinan keluarga yang harmonis tak usah romantis karena ku hanya ingin Ridho dari-Nya.  

Tak perlu sempurna, yang aku perlu adalah sebuah rasa darimu, tak perlu tampan karena yang aku butuhkan hanya kesetiaan.

Kelak nanti kau ada, menjadi yang setiap hari selalu ada di dalam pagiku. Memberi warna dalam kanvas hidupku. Akan aku jaga untuk selamanya.

Dari aku yang menantimu,

Calon istrimu (masih dalam masa memperbaiki diri)

Rabu, 26 Februari 2014

Hari Ke-26 30 Hari Menulis Surat Cinta - Dear #30HariMenulisSuratCinta

Dear #30HariMenulisSuratCinta,

Hari ke-26 ini aku ingin menulis untuk suatu misi yang aku jalankan selama tiga puluh hari terakhir ini. Meski belum genap tiga puluh hari aku menulis surat tapi mungkin lewat surat ini bisa aku ceritakan apa-apa yang aku rasakan selama menulis surat. Awalnya aku mengunjungi sebuah blog dan di blog itu aku membaca sebuah surat yang bloggernya buat untuk ibu nya yang telah tiada. Surat yang amat dalam makna dan kata-katanya. Lalu pada awal tahun ini aku mendapatkan informasi sendiri hasil dari keisenganku membuka situs-situs dan akun orang lain yang orang menyebutnya 'selebtweet'. Dari situ aku daftar sebagai salah satu orang yang akan rutin menulis surat cinta selama tiga puluh hari.

Banyak yang bertanya kenapa aku menulis surat selama itu dan apa tidak buntu suratnya akan ditujukan pada siapa. Terus terang aku sering buntu dan kehabisan ide untuk siapa surat yang akan aku buat. Tapi ide-ide 'gila' ku mucul entah dari mana. Bahkan saat sekarang aku sedang kerja di temani dokumen-dokumen yang menumpuk, tugas yang jauh dari kata selesai, dan tak ada udara atau bau tanah yang menyelinap lewat jendela yang amat ku suka.

Lewat #30HariMenulisSuratCinta ini aku bisa ungkapkan rasa setiap harinya lewat tulisan yang sederhana, kalimat yang tidak rapih bahkan dengan kata yang berceceran entah kemana. Aku senang bisa terlibat di #30HariMenulisSuratCinta ini. Ada beberapa orang yang tertawa ketika membaca surat dari ku, ada juga yang menangis . Ah tak penting akan dimuat di web poscinta.com atau tidak, yang lebih penting adalah pesan yang ingin aku sampaikan diterima dengan baik.

Dengan #30HariMenulisSuratCinta ini aku belajar konsisten, setidaknya konsisten untuk menulis setiap harinya. Tapi ada beberapa surat yang masih aku simpan, bukan karena aku tak ingin menyampaikannya kepada orang itu, hanya karena aku tak lihai menyusun kata menjadi kalimat untuk mengungkapkan dan menjadikan makna berharga dari yang aku rasa. Hampir setiap hari ada saja yang follow ke akun @tulipsenja ku, entah karena aku ikut #30HariMenulisSuratCinta atau bukan.

Terimakasih untuk #30HariMenulisSuratCinta, aku harap aku bisa ikut juga di tahun depan. Sebab kreativitas tanpa batas telah menjadikan rutinitas.

Dari aku yang ikut #30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 25 Februari 2014

Hari Ke-25 30 Hari Menulis Surat Cinta - Untuk @penakecil



Sore Pena Kecil,

Hari Selasa ini aku di wajibkan menulis dengan surat bertema. Temanya untuk seseorang yang ikut juga menulis 30 Hari Menulis Surat Cinta. Surat ini tidak romantis seperti surat-surat yang kamu dapat dari seseorang. Ah aku so tau ya. 

Ini bukan surat cinta ya, tapi lewat surat ini aku mau bilang terimakasih. Pasti kamu akan bertanya terimakasih untuk apa tulipsenja? Ok penakecil, aku mau berterimakasih karena kamu sudah meresponku dan mau mengajakku ke dalam suatu perkumpulan yang kamu bilang ketje (Malam Puisi Bekasi). Semoga aku dan kamu selalu menyatu ya dalam wadah itu. Senang bisa kenal denganmu. Terutama pipimu yang mudah-mudahan tidak semakin besar.

Segini dulu ya penakecil. Aku bingung mau nulis apa lagi. Karena hanya itu yang bisa aku sampaikan di tengah-tengah kesibukan ku di sore ini.Mungkin ini surat terpendek yang pernah kamu dapat. Ah aku so tau lagi kan. 

Sekian dan terima jodoh

Tulipsenja

Minggu, 23 Februari 2014

Hari Ke-24 30 Hari Menulis Surat Cinta - Kepada Sebuah Tanda Tanya



Kepada sebuah tanda tanya,

Aku seakan menjadi pantomim yang tak memerlukan kata untuk sekedar mengungkapkan rasa. Aku enggan holistik dan dihasut oleh sebuah tanda tanya. Bermakam rasa kesengsaraan dan penghianatan.

Tak perlu berlari untuk sekedar bermimpi. Tak perlu mencari untuk sekedar memuji.

Naluri berkata, asa menguak, tabir hidup kian jauh dari sebuah tanda tanya. Tumpukan rindu semakin layu, terbakar waktu. Aku tak butuh sebuah tanda tanya. Aku tidak ingin bertanya. Aku sudah dapat menyimpulkannya sendiri, tidak dengan kata pun dengan kalimat panjang bermakna ganda.

Aku tak perlu menghapus kau, sebuah tanda tanya. Karena sekarang sebuah tanda tanya tak pernah ada. Seakan mendapatkan jawaban sebelum aku butuh tanda tanya. Jika kau tak percaya, lihat surat ini tidak ada sebuah tanda tanya. Aku bukan benci hanya saja aku tidak butuh. Tidak butuh sebuah tanda tanya untuk menunggu sebuah jawaban nantinya.

Dari aku yang tak butuh sebuah tanda tanya


Hari Ke-23 30 Hari Menulis Surat Cinta - P9B Kp.Rambutan-Bekasi Barat

Tadi malam aku melewati jalan yang selama tiga tahun ku lewati, sekarang sudah jarang aku lewati karena waktuku menimba ilmu di kampus itu sudah selesai. Ketika aku menoleh ke arah kanan ada bis bercat hijau dengan tulisan Kp.Rambutan-Bekasi Barat. Sudah jarang aku menaikimu, P9B. Bis yang akrab denganku, bahkan semua elemen di dalamnya menyenangkan dan membuat nyaman ketika aku berada di dalamnya.

Tidak sedikit kenangan ku lewati bersama P9B. Hampir setiap pagi aku tergesa-gesa, berlarian hanya mengejarmu. Telat sedikit saja aku harus menunggumu lima belas menit kemudian. Ah menunggu, perihal hidup yang katanya hanya untuk menunggu. Ini bukan masalah menunggu, ini masalah kehadiranku tepat waktu atau tidak hadir di kelas atau bahkan di lab jika ada praktikum. 

Pagi, aku ingat betul jam berapa saja P9B itu melintas di jalan tempatku menunggu. Selang waktu lima belas menit jika hari biasa dan setengah jam untuk sabtu minggu. Hampir semua supir aku hafal wajahnya, aku sempat sedikit berpikir mungkin mereka juga tidak asing lagi dengan wajahku. Ah aku terlalu pemikir sepertinya, hal sepele saja aku pikirkan. Tapi entah mengapa menjadi seorang yang suka berpikir itu menyenangkan. 

Suatu hari aku duduk di bangku P9B kali ini aku akan berangkat menuju kampus. Melewati gerbang tol Bekasi Barat, padatnya jalan tol dan selalu sama aku lebih memilih duduk di samping jendela bis. Kenapa? Udara yang keluar dari ventilasi itu seakan membuat aku menjadi seseorang yang bahagia karena adanya sapaan dari angin. Ternyata ketika bis akan masuk ke pintu tol Cikunir bis malah dialihkan oleh aparat berbaju cokelat untuk lurus dan mengambil arah ke Cawang. Ah ini makin lama untuk sampai tempat tujuanku. Jalan yang besar tak mampu lagi menampung banyaknya kendaraan. Akibatnya macet dan banyak yang mengeluh. Seharusnya aku sudah sampai jam tujuh pagi di tempat biasa, tapi ini aku baru sampai jam setengah sembilan. Tapi senyuman seseorang yang telah menungguku satu setengah jam lebih membuatku tenang. Aku masih ingat ketika pagi itu. Orang yang menunggu melukis senyum di wajahnya yang saat itu sangat aku nikmati.

Masih tentang pagi, ah tidak akan habis sampai kapan pun bercerita tentang pagi. Pagi itu aku duduk di P9B, agak penuh sesak bahkan bernafas saja sulit. Aku menilhat seorang perempuan berkerudung srpertinya sama seperti aku naik bis untuk pergi ke kampus. Tapi setelah beberapa lama ia jatuh pingsan, tangannya tak bisa lagi menahan badannya yang sudah lama berdiri di bis. Iya, perempuan itu jatuh. Mungkin belum sarapan atau sengaja tidak makan karena depresi habis putus cinta.

Kali ini tentang sore, aku pulang ke rumah menggunakan bis P9B. Selalu suka dengan lagu-lagu yang dibawakan oleh pengamen-pengamen di dalam bis P9B. Bahkan beberapa dari mereka sering memberi tahu aku jika bis tiba sambil bilang "tuh bis nya sudah datang yang mau ke Rawa Panjang". Saat itu tidak ada yang special. Bis keluar tol Bekasi Barat tapi ketika lampu merah bia malah menyerobot dan orang akan turun pun marah karena terlewat. Supir bis menghindari polisi yang mengejarnya, penumpang yang ingin turun marah-marah berteriak ingin turun. Akhirnya keributan pun terjadi. Suasana semakin panas. Bis telah berhenti di lampu merah Pekayon. Supir bis dipukili beberapa orang penumpang yang ingin turun di lampu merah sebelumnya. Salah satu penumpang keluar dan masuk lagi, membawa batu bata dan menghantam supir bis itu, tak lama kemudian polisi datang untuk membicarakan masalah di lampu merah sebelumnya. Aku tak mengerti kenapa bisa serunyam ini. Tapi untuk tidak mau ikut campur aku langsung pergi dan melanjutkan perjalanan pulang.

Untuk P9B yang tiga tahun aku naiki tanpa adanya kenaikan tarif aku merasakan nyaman ketika berada di dalamnya, tertidur pulas, aku juga pernah menangis dan mungkin jika P9B bisa bicara akan bertanya kenapa aku menangis di tengah ramainya orang yang kelelahan setelah beraktivitas. Semalam aku melihat P9B dan memutar memori ku. Sejenak aku menoleh dan aku tau kini kau semakin tua. Hingga kau tak lagi menerobos kenangan yang jumlahnya jutaan.


Dari penumpangmu,

Nirmala Hapsari

Jumat, 21 Februari 2014

Hari Ke-22 30 Hari Menulis Surat Cinta - Undangan Biru Muda

Dear Ka Dhira,

Dalam surat ini aku tidak akan bertanya kabarmu. Karena hampir setiap hari kita bertukar kabar. Ka, sepertinya kamu perlu tahu. Kamu adalah salah satu senior favorit aku di kampus. Kenapa? Karena kamu tidak seperti senior lainnya yang sering kita menyebutnya dengan sebutan "gila hormat".

Saat itu sore entah jam berapa, aku mendapati kamu cantik sekali dengan gaun putih tulang berlengan pendek, muka kamu sungguh berseri lebih indah dari mentari yang dilihat di atas bukit, sesekali kamu tertawa disela-sela senyummu. Kamu menghampiri ku, duduk di samping ku. Ah ka, baru kali ini aku lihat lagi muka kamu yang seperti ini. Hingga aku sulit memakai kata-kata apa lagi untuk menjelaskannya. Kamu menyodorkan secarik undangan biru muda, undangan yang banyak juga warna putihnya di pojok kanannya ada gambar bunganya entah bunga apa tapi warnanya indah. Aku ambil undangan biru muda itu. Aku terkejut membacanya. Ternyata undangan biru muda itu adalah undanganmu. Aku langsung membacanya, penasaran dengan siapa kamu menikah. Ternyata benar kamu akan menikah dengan seorang pria yang kamu cintai, aku pun ikut senang. Sedikit kesal dicampur rasa sebal sebab kenapa kamu sekarang tidak bercerita kepada ku. Biasanya hal kecil saja kamu ceritakan.

Kamu langsung pergi saat itu setelah memberikan aku undangan biru muda itu. Sambil terus tertawa disela-sela senyummu.

Semoga undangan biru muda darimu tidak hanya sekedar kamu berikan di dunia mimpiku. Karena aku ingin sekali melihatmu bahagia dengan terus tertawa disela-sela senyummu.

Dari juniormu,


Nirmala Hapsari