Nirmala

Jumat, 19 Agustus 2016

Renungan Pagi

Saat pagi dan hati mulai terpaut akan kenikmatan dunia, tiba-tiba seorang guru saya mengirimkan ini:


Renungan Pagi

Seorang hamba yang berhusnuddzon kepada ketetapan Allah, ketika ia menghadapi satu masalah, Allah akan menyelimuti hamba itu dengan cahaya kelembutan sifatNya. Maka limpahan cahaya ilahi itu akan memenuhi hati sang hamba sebelum takdir itu datang. Apapun takdirNya akan disambut dengan suka cita dan dipahami sebagai ekpresi cintaNya.

Kita tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari ketetapanNya. Yang bisa kita lakukan adalah memohon agar  selalu diselimuti cahaya sabar, syukur dan ridha dalam melewati satu persatu ketetapanNya.

Tak mungkin kita mampu bersyukur jika tidak diselimuti cahaya As Syakur. Tak mungkin kita bisa bersabar jika kita tidak diselimuti dengan cahaya As Shabur. Hidup adalah pilihan. Apakah kita memilih untuk menjalani hidup dengan diselimuti cahaya sifat sifat ilahiyah, ataukah kita memilih untuk menjalani hidup dengan melepaskan diri dari cahaya sifat sifat ilahiyah.

Dirangkum dari kitab
التنوير فى اسقاط التدبير
karya Ibnu Athaillah yang dikaji setiap sabtu subuh @Masjid Al Hikmah Depok

Salam,
Asnawi Muallim Misan

Terimakasih banyak ustad atas renungan pagi.
Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan, kesehatan dan keselamatan.
aamiin

Selasa, 07 Juni 2016

#nobirthdaycake

Banyak orang bilang kalau waktu berjalan sangat cepat. Sebenarnya waktu yang berjalan cepat atau kita yang terlalu terburu-buru melewati setiap detiknya. 
Entahlah.

Beberapa orang memaknai setiap momen. Momen apa pun. 

Sebenarnya saya tidak tahu mau menulis apa. Sudah lama tidak bercerita di blog ini. 
Yang saya ingat terakhir karena saya harus menyelesaikan tugas akhir saya. 

Minggu, 04 Oktober 2015

Untuk Perempuan yang Akan Mendampingi Lelaki Acuh



Untuk Perempuan yang Akan Mendampingi Lelaki Acuh

Mungkin kamu tak akan pernah tahu siapa aku, asal usulku atau tempat tinggalku. Mungkin kamu juga tak akan pernah membaca tulisan ini.
Jika kamu mau, kamu bisa bertanya tentangku pada lelaki acuhmu, itu pun jika dia berkenan untuk menjawabnya.

Kata selamat atau ucapan turut berbahagia hanya basa-basi yang mungkin tidak akan aku berikan untuk kamu  dan lelaki acuhmu.

Untuk perempuan beruntung yang akan mendampingi lelaki acuh. Aku rasa kamu adalah seorang perempuan yang baik.
Mungkin ini terlalu naif. Tapi aku masih yakin dengan tuhanku. Aku yakin tuhanku akan memilihkan perempuan terbaik untuk
mendampingi lelaki acuhmu itu.

Untuk perempuan yang dipilihkan tuhan untuk lelaki acuh, mungkin kamu tak akan pernah tahu. Tapi aku tahu.
Ya, aku lebih tahu sebelum kamu tentang lelaki acuh itu. Aku akan menceritakannya padamu tentang hal-hal apa saja yang harus kamu tahu.

Lelaki acuhmu itu adalah orang yang baik. Jadi, kamu tak perlu khawatuir untuk mengingatkan solat jika dia sedang tak bersamamu.
Dia adalah seorang muslim yang taat, yang selalu menjalankan kehidupan sesuai syariat.

Lelaki acuhmu adalah seorang yang mencintai puisi. Aku rasa kamu tak perlu cemburu pada puisi dengan judul apa atau pengarangnya siapa.
Oh ya, jangan lupa buatkan puisi saat pagi, tengah malam atau kapan pun sesukamu. Tapi jika kamu tidak bisa membuat puisi.
Biarkan hanya senyummu yang mengisi.

Lelaki acuhmu sangat suka minum teh, kopi atau sekedar menikmati chocolate ice cream. Mungkin setiap hari kamu bisa buatkan dan sajikan di meja makan.
Sebelum dia berangkat atau pulang kerja. Kamu juga bisa buatkan cemilan kesukaannya, brokoli crispy dengan saus mayonise. Kamu tak perlu khawatir jika makananmu tidak habis. Karena dengan cepat dia akan bertanya, meminta ijin untuk menghabiskan makananmu yang tidak habis itu.

Tentang selera musik, aku sangat paham selera musik lelaki acuhmu. Kelas. Jadi, jika kamu mungkin asing pada lagu-lagu indie atau ber-genre Jazz
seperti Sore, Payung Teduh, Layur, Frau, Lipstick Lipsing, L'alphalpha, Mocca dan The Trees and The Wild kamu bisa sejenak diam sambil menemaninya mendengarkan lagu-lagu yang sedang dia dengarkan. Mungkin kamu bisa suka pada musik-musik sejenis itu. Jangan lupa ajak dia untuk menonton konser musik jazz. Luangkan waktumu untuk melihatnya menikmati musik ditemani hujan, aku rasa akan semakin syahdu jika bersamamu.

Kamu akan tahu lelaki acuhmu sangat suka travelling. Dia seorang pejalan kaki sejati yang menikmati pantai, senja, ombak, pasir putih, angin, gunung, hutan, bau bunga eddelweis, danau dan lainya. Aku rasa kamu bisa menjadi travel-mate-nya kelak. Atau jika dia ingin travelling sendiri, berikan ijin, berikan kesempatannya untuk mengunjungi kawan lama dan/atau kawan barunya. Mungkin menyenangkan.

Sebenarnya aku benar-benar tak sanggup untuk menuliskan ini kepadamu. Bahkan saat menuliskan ini pun seakan semua kata-kata yang sudah aku rangkai sebulan yang lalu sekejap hilang. Tentang aku, kamu tak perlu cemburu. Aku akan mendoakan kamu dan lelaki acuhmu. Jika tuhan mempertemukan aku dengan lelaki acuhmu. Aku hanya berharap kita sama-sama bertemu dengan kebahagiaan masing-masing. Dan mari tertawakan masa lalu.

Jakarta, Oktober 2015
Nirmala Hapsari

Sabtu, 19 September 2015

Ruang Momen dan Luka

Bukan tentang rindu yang tak sengaja aku balut dengan pilu atau tentang kita yang sama-sama melankolis, sama-sama menganggap semua benda menjadi puitis.
Aku pastikan tulisan ini bukan tentang senja yang terlalu jingga yang saat itu tidak sempat kita nikmati bersama.

Stasiun.
Mungkin bagi sebagian orang ruang itu menjadi saksi bisu kebahagiaan atau kesedihan. Sebab selalu ada kata perpisahan setelah kata pertemuan.
Stasiun yang ternyata menghadirkan pelbagai peristiwa yang sekelebat bertungkus-lumus kepada pengunjungnya.

Rel, peron, gerbong, ruang tunggu, loket, KRL, bunyi bel yang khas seakan ingin membawa aku masuk silih berganti ke dalam ruang dan waktu serta suasana yang silih berganti dari bahagia, sedih, terharu, tersenyum dalam kesedihan atau sedih dalam senyuman.

Malam percaya bahwa kesedihan di tengah kepadatan bukan hanya tentang kesendirian. Ia berdua bersama luka yang memdalam. 

Minggu, 02 Agustus 2015

Sesak

Tak pernah sekali pun aku rasakan keadaan ini.
Bagaiman mungkin aku membenci tentang keputusanku. 
Bukan. 
Bukan hanya itu. Aku sudah kecewa dengan diriku sendiri. 

Lantas bagaimana?
Aku tak tahu harus apa dan harus bagaimana.
Tentang perasaan yang sudah lama. 
Tentang pertemuan yang tak pernah membuat kecewa.
Tentang hati yang siap untuk terluka.

Aku ingin menjawab segala tanya yang dibuka dengan kata kenapa.
Tapi yang ku tahu kau tak pernah bertanya kenapa atau alasannya apa. Barangkali sudah terlanjur tak peduli atau terlalu kecewa. Tapi ku tasa kau tak mungkin kecewa. Prasangka apa pula yang ku tuliskan di tengah malam begini. 

Tapi bagaimana pun pada akhirnya selali ada hati yang entah dipaksa atau dengan ikhlas menerima.


-I wonder if you know.. Suddenly you changed my mind-


Agustus
Tengah Malam
Sesak

Nirmala H

Kamis, 16 Juli 2015

Takbir

"Suara takbir berkumandang seantero negeri"


Kalimat itu kau rangkai beberapa tahun lalu. Tugasku mengetik pesan singkat tersebut dengan beberapa kalimat tambahan permohonan maaf juga di akhir kalimat yang masih ku hafal "dari hamba-Nya yang berlumuran dosa". Aku sebarkan kepada saudara, kerabat dan rekan kerja yang ada dikontak ponselnya.

Dua kali lebaran sudah. Tak ada yang menyuruhku untuk melakukan hal itu. Tahun lalu karena kau sakit dan tahun ini karena kau telah tiada.

Malam takbir tahun ini berbeda dengan tahun lalu.
Kali ini aku masih bisa menulis di blog. Berkumpul dengan saudara, makan ketupat, rendang, opor, berkunjung ke rumah saudara dan ku pastikan tak ada air mata. Walau rindu masih terus bertambah setiap harinya. Sesekali aku lihat ponselku yang penuh dengan kalimat copy-paste tentang ucapan selamat dan permohonan maaf. Nanti saja ku balas atau mungkin besok.

Malam takbir tahun lalu.
Aku melihat kau terbaring lemah tak berdaya. Badanmu masih terlihat gemuk tak terlihat seperti orang sakit dan memang kau tak sakit secara fisik.
Aku bacakan ayat-ayat suci Al-Quran. Lalu aku lihat kau agak tenang.
Al-Baqarah.
Malam itu aku tidak tidur. Menemanimu semalaman. Sampai pada adzan subuh berkumandang aku baru terlelap dan tak sempat sholat Ied seperti kebanyakan orang yang datang pagi-pagi dengan baju baru atau mukena/sarung baru.

Tadi sore sebelum aku membeli bunga untuk besok ku pasang lagi bingkai foto di kamar. Setelah beberapa bulan lalu ku taruh di lemari.

Banyak yang merindukan.
Semoga kelak di tempat yang kekal kita dipertemukan.
Selamat Takbiran.
Selamat Lebaran.



Bekasi, 29 Ramadhan 1436 H
Nirmala Hapsari

Senin, 01 Juni 2015

Everything Just Blends into a Perfect Harmony

Ada orang-orang yang bersikeras mempertahankan kenangan
dan stasiun ini seolah diperuntukan bagi orang-orang seperti itu.
Nyaris tak ada yang berubah.
Peron, gerbong kereta, loket, toilet, musholla, minimarket dan ruang tunggu.

Bertahun lalu, tempat ini menjadi titik temu kita. Entah kenapa kali ini kamu memilih tempat ini lagi.

Ramai.
Dengan kondisi seperti ini pun aku masih bisa mengenalimu dari kejauhan di balik badanmu.

Hingga sampai sekarang, saat aku menulis ini, aku tidak tahu, masih tidak paham, kenapa tuhan masih mempertemukan kita untuk kali yang sekian. Padahal dulu ketika pertama kali bertemu, namamu saja aku tak tahu.

Lantas, apa yang kita tuntut dari sebuah pertemuan?
Pertemuan berikutnya dengan (tak) ada harap?

Ditelingaku,
segala diammu terdengar lebih merdu,
syahdu.

Dimataku,
wajah dinginmu masih jauh lebih indah dibanding warna senja di pantai manapun.

Kita mungkin sedang saling menunggu sebuah pertanyaan atau pernyataan. Yang kita sendiri sudah sulit untuk membedakan.

Tapi kita sudah terlanjur percaya pada diam kita masing-masing.
Kita juga percaya bahwa diam kita sebenarnya saling bercerita, saling bercengkrama.

Kita sampai pada tempat yang membuat kita tersesat untuk sampai.
Kerumunan kecil, tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Sekedar menikmati churros green tea dan es jeruk. Menyenangkan.

Hingga akhirnya kita sama-sama memikirkan tentang doa saat kita dipertemukan akankah tuhan menghentikan waktu yang terus berjalan dan terasa cepat.

Dalam lamunanku setelah kita dipisahkan oleh kereta yang berhenti di salah satu stasiun, 'tidak ada puisi untuk kita malam ini, ada saatnya pertemuan harus kita lewati tanpa indahnya metafora apa pun.