Nirmala

Jumat, 30 Januari 2015

Bunga untuk Seorang Kekasih #30HariMenulisSuratCinta Hari ke-1

Kepada Bunga untuk Seorang Kekasih,

Terimakasih atas segala sapa mu pagi ini, engkau akan aku letakkan di tempat ini.
Tempat ini adalah lain cerita.
Tempat ini adalah salah satu bagian dari sekian banyak singgasana.
Bagiku.
Pesan yang disampaikan dari tempat ini selalu mengingatkanku untuk terus harus belajar berbuat baik.
Karena pada kenyataannya kita semua akan menuju tempat ini, meski tempat ini bukanlah menjadi tujuan kita.

Kepada bunga untuk seorang kekasih yang sedang tidur panjang.
Perkenalkan, saya sulung yang lima bulan terakhir ini sedang ditinggal tidur panjang oleh kekasihnya.
Kekasih yang amat dicintainya.

Kepada bunga untuk seorang kekasih yang sedang tidur panjang.
Selain bersamamu ke tempat ini aku juga bersama adik dan mama.
Kami tak pernah menangis di tempat ini.
Sebab kami tahu, kekasih akan selalu dipertemukan kembali dalam waktu yang tempat yang tepat dan kekal.

Kepada bunga untuk seorang kekasih yang sedang tidur panjang.
Aku tinggalkan kau di sini.
Sesekali aku menoleh kembali ke tempat ini.
Kupandang tempat ini. Jika kekasihku sehat sebagaimana dulu dengan mudah ia pasti bisa membaca pikiranku.
Aku tak bisa berlama-lama di tempat ini.

Kepada bunga untuk seorang kekasih yang sedang tidur panjang.
Temani kekasihku ini. Bantu aku untuk mendoakannya juga.
Semoga warna-warni mu membuat wajahnya berseri.
Semoga wangi mu membuat hatinya menari.

Salam hangat,
Dari aku yang selalu mendoakan kekasihku :-)

Minggu, 11 Januari 2015

MENIK(mati)AH

Sudah lama rasanya saya tidak corat-coret di toilet (baca : judul bukunya Eka Kurniawan), maksudnya corat-coret di blog.
Kenapa ada maksudnya? Ya, karena agar ada tujuan serta niat yang mudah-mudahan samapai ke siapa pun termasuk yang membaca blog ini.

Bercerita perihal pernikahan itu tak selalu menjadi hal yang menyenangkan oleh berbagai kalangan. Menikah itu juga bukan tujuan dari hidup.
Tapi apakah kita (yang belum menikah) tidak ingin mempunyai keturunan, menyapa seorang yang kita cintai di pagi hari,
tertawa bersama menertawakan hidup yang ah sebenarnya tak patut untuk ditertawakan, berjalan bersebelahan sambil menikmati perubahan warna langit, sholat berjamaah, sarapan bersama atau mungkin sekedar menonton di bioskop. Adalah hal yang sulit ketika banyak pertanyaan perihal pernikahan, mungkin ada yang bertanya seperti ini :

"Kapan nikah?"

"Sudah lulus kuliah apa lagi? Nikah sana !"

"Sudah ada calonnya belum?"

"Ditunggu ya undangannya"

atau ketika datang ke sebuah acara pernikahan tak sedikit yang bertanya :

"Kapan nyusul?"

Mungkin juga ada percakapan yang menunjukan kepasrahan seperti ini :

"Kapan nikah?"
"Jangan tanya kapan saya nikah, cariin aja calonnya nanti saya nikahi"

Ada yang bilang indah itu jika hati yang senantiasa resah dan gelisah menemukan sakinah dalam nikah, tapi tak sedikit yang mempunyai prinsip indah itu sendiri dan bisa melakukan apa saja sendiri. 

Orang yang menikah memiliki kadar kortisol (hormon stres) lebih renda, maka pernikahan bahagia bisa membantu mencegah stroke. Itu jika pernikahannya bahagia. Sekarang ini kita mungkin sering melihat banyak pernikahan "gagal", tidak KDRT, pasangan yang selingkuh, suami tidak menafkahi istri, peran istri dan suami menjadi terbalik, suami yang poligami tapi tak adil, atau istri yang menjual diri untuk makan dan didukung oleh suaminya. Begitu mengerikannya hal-hal seperti itu. Jadi, masih ingin menikah? Tentu tidak semua pernikahan "gagal", trauma kadang menjadi pemicu seseorang memutuskan hidup sendiri. Sebenarnya lebih baik menikah. Teorinya seperti itu.

Masih ada pemikiran kusut tentang menikah, jika menikah adalah menyerah untuk menerima segala masalah. Terbukanya pintu masalah, tapi apakah mungkin hidup ini tanpa masalah. Yang katanya jika tidak ada masalah itu pun masalah.

Mungkin juga tak sedikit yang resah, bahkan ketakutan ketika kelak menikah dengan pasangan yang sama sekali tidak dicintainya. Bagaimana dengan itu?
Apakah kita harus menikah dengan seseorang yang kita cintai?
Sebab ada pula manusia yang tak mau belajar untuk mencitai, apalagi di jaman sekarang manusia ingin ada timbal balik. Kalau mencintai seseorang ya orang itu harus dicintai pula. Rumit? tentu tidak. Segalanya akan berjalan dengan sendirinya. Masih resah?

Menikah adalah komitmen untuk saling melengkapi, bukan hanya sekedar untuk mengubah status saja.

Sesuatu yang baik akan tetap akan tetap menjadi baik jika diawali dengan proses yang baik. Kamu setuju bukan kalau nikah adalah sesuatu yang baik? 

Maaf jika corat-coret ini tidak sejalan dengan jalan pikiran kalian. Sekedar menuangkan isi sampah di kepala dan blog ini adalah TPA nya (Bantar Gebang). Namun, apalah arti Jakarta tanpa Bantar Gebang.


Tertanda,

Nirmala Hapsari
Cakung, Januari 2014

Selasa, 07 Oktober 2014

Sulung


Terimakasih untuk segala kelakuanmu, termasuk mengobrak-ngabrik koleksi bukuku
Terimakasih untuk segala imajinasimu, yang begitu liar dan selalu aku tertawakan
Terimakasih untuk mau menjadi rival ku di lapangan bulutangkis
Terimakasih untuk menemaniku makan bubur di sudut proyek kota
Terimakasih untuk selalu membuatku bangga
Terimakasih sudah ikhlas saat aku tiada

Rabu, 24 September 2014

Dari yang (mungkin) Tak Akan Menyerah

Menatap matamu, seperti melihat langit malam, ada teduh yang menenangkan, ada gelap yg menakutkan, juga ada bintang-bintang yang berkilauan, ada bulan yang menghangatkan atau seperti hal nya melihat mentari terbit. menandai awalnya hari, bersiap dengan terang yang menghampiri atau panas yang merajai. banyak arti yang bisa kutangkap darimu karena kau seperti bintang-bintang tua diatas sana, butuh perjalanan yang lama untuk sampai ada disini, ku lihat cahayanya, jiwamu jiwa muda yang dewasa yang selalu membuatku bertanya tanya, karena kau penuh kejutan, seperti mentari pagi dan langit malam.

Jangan pernah memintaku untuk melepasmu, karena aku tak akan menyerah tentang kita, aku tak akan berhenti berusaha, mempertahankan hubungan kita. meski langit malam menghitam, setidaknya masih ada bintang atau bulan. meski kau muak padaku setidaknya masih ada perasaan dihatiku untukmu. aku tak akan menyerah, demi mempertahankan hubungan kita.

Tak apa jika kau ingin menyendiri, menikmati duniamu sendiri untuk sementara waktu, aku akan siap menunggumu, sampai kau mau kembali lagi. pergilah menjelajahlah. temukan apa yang kau mau. tapi satu hal yang harus kau ingat, kau tetap milik ku.

Karena kau adalah bintang. kau tahu bintang kan?? mereka kelihatan kerdil, berkelip-kelip lucu. padahal mereka super besar, dan kerlipnya adalah api. yang membakar. Bintang mungkin jatuh ke bumi. dari serpihan yang jatuh itulah kita mengetahui, mereka datang dari jauh dan panas. Aku tak khawatir, meski kau pergi kau adalah seseorang yang di takdirkan Tuhan untukku. jadi, aku yakin kau pasti kembali. karena aku tak akan menyerah untuk terus menggenggammu.

Aku tak ingin menjadi seseorang yang mudah melepaskan sesuatu yang telah kumiliki. banyak sudah pengalaman di sekitar kita yang mengajarkan. bahwa perpisahan sering tak berakhir dengan kebaikan. kita punya akal, punya mata, kita punya telinga, kita punya rasa. banyak hal yang diberikan Tuhan untuk kita gunakan dalam mempertahankan hubungan kita. Tak jadi pasanganku pun kau tetaplah sahabatku. Aku akan melakukan apapun, untuk menjadikan mu pasanganku. kan ku gunakan anugerah tuhan yang ada untuk melakukan perubahan dalam hubugan kita. perubahan yang lebih baik tentunya. dengan merendahkan hati, ku biarkan semua ini agar hubungan kita tetap abadi. karena hanya kau yang membuat ku benar-benar jatuh cinta.

Jika hal sepele aku melepasmu, apalah arti diriku. Aku akan tetap terus berusaha, menggenggamu, memelukmu, merayumu. Apapun akan ku lakukan, karena aku tahu masih ada perasaan dihatimu untuk ku. tak akan ku sia-sia kan kenyataan itu. Tuhan tahu aku telah berusaha. dan layak mendapat kan balas. Aku ingin dirimu lah  balasan ku. :)


Saat ini aku mengerti, terkadang perasaan dapat mengubah seseorang. Dari yang tidak bisa menulis menjadi bisa menulis. Dari yang tak peduli menjadi sangat peduli. Bahkan dari yang belum mengenal puisi menjadi seorang penyair. Inilah yang aku tuliskan. Tanpa aku edit sedikit pun. Dari kamu, yang sebegitunya dalam menuangkan isi hati.

Kamis, 18 September 2014

Belum Datang Senja

Belum datang senja.

Aku duduk disudut ruang di salah satu rumah sakit swasta yang tak jauh dari rumahku.
Saat itu aku hanya bisa nikmati pemandangan yang menurutku tidak menyenangkan.
Aku selalu ingin bersama suamiku yang sedang lemah dan melawan penyakitnya. 
Aku tahu,suamiku adalah orang yang sangat kuat, bahkan disaat-saat seperti ini ia masih saja tidak banyak mengeluh. 

Aku mengusap kepalanya lalu matanya terbuka dan terus memandangiku seakan-akan ia sedih dan haru, bukan karena pilu dengan sakit yang dideritanya tiga bulan terakhir ini tetapi karena ia merasa takut aku lelah mengurusinya. Padahal sudah menjadi tanggung jawabku untuk melayani dan mengurusinya. Masih jelas ingatanku tentang percakapan, yang ah mungkin tak akan pernah aku lupa.

"Aku bukan khawatir karena penyakitku", katanya dengan suara yang pelan.

"Lalu kenapa?", jawabku.

"Aku khawatir kesehatan kamu, aku takut kamu lelah dan sakit mengurus aku di sini", katanya masih dengan suara yang pelan.

Keadaan hening dan mengharukan, aku tahu ia sangat menyangiku bahkan sampai ia lebih mengkhawatirkan aku daripada penyakitnya sendiri.

Dari bayang-bayang jendela di kamar rumat sakit jelas aku melihat keadaan belum gelap dan ia pun terlelap.
Selamat tidur untuk selamanya imam yang bijaksana.



"Kisah untuk papa yang begitu cinta pada mama"
"Masih terus mendoakan yang sebulan ini telah pergi"
Ï LOVE YOU , PAPA :-) 

Minggu, 24 Agustus 2014

Ruang Tamu

Aku tak pernah sekali pun menciptakan sepi
Sepi datang sendiri ke rumahku
Awalnya ia mengetuk pintu rumahku

Tok Tok Tok

Aku tak membukakan pintu rumahku
Tapi ia masuk dengan perlaha-lahan
Menuju ruang tamu ku
Ia duduk sambil memandangi sesososk pria yang sudah terbujur kaku
Seorang pria yang sudah tidak bernyawa lagi
Hanya jasadnya saja di ruang tamu itu

Lalu sepi mencoba bersahabat dengan ku
Ia mengusap air mata ku
Rasanya ia mengerti arti kehilangan
Atau mungkin ia memang sengaja datang
Datang disaat orang merasa kehilangan

Ah Sepi

Senja telah menunjukan jingganya
Tapi sepi belum juga pergi
Sepi masih belum beranjak dari ruang tamu ku
Walau sesosok pria itu telah ramai-ramai dimasukan ke dalam
 bumi



Just for My Hero (My Papa)
Mengalir deras rindu ini di hari ke tujuh setelah kepergiannya :)