Nirmala
Selasa, 14 Oktober 2014
Selasa, 07 Oktober 2014
Sulung
Terimakasih untuk segala kelakuanmu, termasuk mengobrak-ngabrik koleksi bukuku
Terimakasih untuk segala imajinasimu, yang begitu liar dan selalu aku tertawakan
Terimakasih untuk mau menjadi rival ku di lapangan bulutangkis
Terimakasih untuk menemaniku makan bubur di sudut proyek kota
Terimakasih untuk selalu membuatku bangga
Terimakasih sudah ikhlas saat aku tiada
Rabu, 24 September 2014
Dari yang (mungkin) Tak Akan Menyerah
Menatap matamu, seperti melihat langit malam, ada teduh yang
menenangkan, ada gelap yg menakutkan, juga ada bintang-bintang yang
berkilauan, ada bulan yang menghangatkan atau seperti hal nya melihat
mentari terbit. menandai awalnya hari, bersiap dengan terang yang
menghampiri atau panas yang merajai. banyak arti yang bisa kutangkap
darimu karena kau seperti bintang-bintang tua diatas sana, butuh
perjalanan yang lama untuk sampai ada disini, ku lihat cahayanya, jiwamu
jiwa muda yang dewasa yang selalu membuatku bertanya tanya, karena kau
penuh kejutan, seperti mentari pagi dan langit malam.
Jangan pernah memintaku untuk melepasmu, karena aku tak akan menyerah
tentang kita, aku tak akan berhenti berusaha, mempertahankan hubungan
kita. meski langit malam menghitam, setidaknya masih ada bintang atau
bulan. meski kau muak padaku setidaknya masih ada perasaan dihatiku
untukmu. aku tak akan menyerah, demi mempertahankan hubungan kita.
Tak apa jika kau ingin menyendiri, menikmati duniamu sendiri untuk
sementara waktu, aku akan siap menunggumu, sampai kau mau kembali lagi.
pergilah menjelajahlah. temukan apa yang kau mau. tapi satu hal yang
harus kau ingat, kau tetap milik ku.
Karena kau adalah bintang. kau tahu bintang kan?? mereka kelihatan
kerdil, berkelip-kelip lucu. padahal mereka super besar, dan kerlipnya
adalah api. yang membakar. Bintang mungkin jatuh ke bumi. dari serpihan
yang jatuh itulah kita mengetahui, mereka datang dari jauh dan panas.
Aku tak khawatir, meski kau pergi kau adalah seseorang yang di takdirkan
Tuhan untukku. jadi, aku yakin kau pasti kembali. karena aku tak akan
menyerah untuk terus menggenggammu.
Aku tak ingin menjadi seseorang yang mudah melepaskan sesuatu yang
telah kumiliki. banyak sudah pengalaman di sekitar kita yang
mengajarkan. bahwa perpisahan sering tak berakhir dengan kebaikan. kita
punya akal, punya mata, kita punya telinga, kita punya rasa. banyak hal
yang diberikan Tuhan untuk kita gunakan dalam mempertahankan hubungan
kita. Tak jadi pasanganku pun kau tetaplah sahabatku. Aku akan melakukan
apapun, untuk menjadikan mu pasanganku. kan ku gunakan anugerah tuhan
yang ada untuk melakukan perubahan dalam hubugan kita. perubahan yang
lebih baik tentunya. dengan merendahkan hati, ku biarkan semua ini agar
hubungan kita tetap abadi. karena hanya kau yang membuat ku benar-benar
jatuh cinta.
Jika hal sepele aku melepasmu, apalah arti diriku. Aku akan tetap
terus berusaha, menggenggamu, memelukmu, merayumu. Apapun akan ku
lakukan, karena aku tahu masih ada perasaan dihatimu untuk ku. tak akan
ku sia-sia kan kenyataan itu. Tuhan tahu aku telah berusaha. dan layak
mendapat kan balas. Aku ingin dirimu lah balasan ku. :)
Saat ini aku mengerti, terkadang perasaan dapat mengubah seseorang. Dari yang tidak bisa menulis menjadi bisa menulis. Dari yang tak peduli menjadi sangat peduli. Bahkan dari yang belum mengenal puisi menjadi seorang penyair. Inilah yang aku tuliskan. Tanpa aku edit sedikit pun. Dari kamu, yang sebegitunya dalam menuangkan isi hati.
Kamis, 18 September 2014
Belum Datang Senja
Belum datang senja.
"Aku bukan khawatir karena penyakitku", katanya dengan suara yang pelan.
"Lalu kenapa?", jawabku.
"Aku khawatir kesehatan kamu, aku takut kamu lelah dan sakit mengurus aku di sini", katanya masih dengan suara yang pelan.
Keadaan hening dan mengharukan, aku tahu ia sangat menyangiku bahkan sampai ia lebih mengkhawatirkan aku daripada penyakitnya sendiri.
Dari bayang-bayang jendela di kamar rumat sakit jelas aku melihat keadaan belum gelap dan ia pun terlelap.
Selamat tidur untuk selamanya imam yang bijaksana.
"Kisah untuk papa yang begitu cinta pada mama"
"Masih terus mendoakan yang sebulan ini telah pergi"
Ï LOVE YOU , PAPA :-)
Aku duduk disudut ruang di salah satu rumah sakit swasta yang tak jauh dari rumahku.
Saat itu aku hanya bisa nikmati pemandangan yang menurutku tidak menyenangkan.
Aku selalu ingin bersama suamiku yang sedang lemah dan melawan penyakitnya.
Aku tahu,suamiku adalah orang yang sangat kuat, bahkan disaat-saat seperti ini ia masih saja tidak banyak mengeluh.
Aku mengusap kepalanya lalu matanya terbuka dan terus memandangiku seakan-akan ia sedih dan haru, bukan karena pilu dengan sakit yang dideritanya tiga bulan terakhir ini tetapi karena ia merasa takut aku lelah mengurusinya. Padahal sudah menjadi tanggung jawabku untuk melayani dan mengurusinya. Masih jelas ingatanku tentang percakapan, yang ah mungkin tak akan pernah aku lupa.
"Lalu kenapa?", jawabku.
"Aku khawatir kesehatan kamu, aku takut kamu lelah dan sakit mengurus aku di sini", katanya masih dengan suara yang pelan.
Keadaan hening dan mengharukan, aku tahu ia sangat menyangiku bahkan sampai ia lebih mengkhawatirkan aku daripada penyakitnya sendiri.
Dari bayang-bayang jendela di kamar rumat sakit jelas aku melihat keadaan belum gelap dan ia pun terlelap.
Selamat tidur untuk selamanya imam yang bijaksana.
"Kisah untuk papa yang begitu cinta pada mama"
"Masih terus mendoakan yang sebulan ini telah pergi"
Ï LOVE YOU , PAPA :-)
Minggu, 24 Agustus 2014
Ruang Tamu
Aku tak pernah sekali pun menciptakan sepi
Sepi datang sendiri ke rumahku
Awalnya ia mengetuk pintu rumahku
Tok Tok Tok
Aku tak membukakan pintu rumahku
Tapi ia masuk dengan perlaha-lahan
Menuju ruang tamu ku
Ia duduk sambil memandangi sesososk pria yang sudah terbujur kaku
Seorang pria yang sudah tidak bernyawa lagi
Hanya jasadnya saja di ruang tamu itu
Lalu sepi mencoba bersahabat dengan ku
Ia mengusap air mata ku
Rasanya ia mengerti arti kehilangan
Atau mungkin ia memang sengaja datang
Datang disaat orang merasa kehilangan
Ah Sepi
Senja telah menunjukan jingganya
Tapi sepi belum juga pergi
Sepi masih belum beranjak dari ruang tamu ku
Walau sesosok pria itu telah ramai-ramai dimasukan ke dalam
bumi
Just for My Hero (My Papa)
Mengalir deras rindu ini di hari ke tujuh setelah kepergiannya :)
Sepi datang sendiri ke rumahku
Awalnya ia mengetuk pintu rumahku
Tok Tok Tok
Aku tak membukakan pintu rumahku
Tapi ia masuk dengan perlaha-lahan
Menuju ruang tamu ku
Ia duduk sambil memandangi sesososk pria yang sudah terbujur kaku
Seorang pria yang sudah tidak bernyawa lagi
Hanya jasadnya saja di ruang tamu itu
Lalu sepi mencoba bersahabat dengan ku
Ia mengusap air mata ku
Rasanya ia mengerti arti kehilangan
Atau mungkin ia memang sengaja datang
Datang disaat orang merasa kehilangan
Ah Sepi
Senja telah menunjukan jingganya
Tapi sepi belum juga pergi
Sepi masih belum beranjak dari ruang tamu ku
Walau sesosok pria itu telah ramai-ramai dimasukan ke dalam
bumi
Just for My Hero (My Papa)
Mengalir deras rindu ini di hari ke tujuh setelah kepergiannya :)
Sabtu, 12 Juli 2014
I love going out of my way
― Rebecca Solnit, A Field Guide to Getting Lost
Hello !!!!!
Hello to the few folks who may be checking this blog regularly,
Sorry for the month-long absence of new posts...I still have a treasure trove of sounds to share with the world (including quite a few from my most recent trip to your heart #halaah), but have been in a bit of a lazy slump recently. I've got work off and plan to spend the day loading up a bunch of posts of great music and photos.
thanks
Sorry for the month-long absence of new posts...I still have a treasure trove of sounds to share with the world (including quite a few from my most recent trip to your heart #halaah), but have been in a bit of a lazy slump recently. I've got work off and plan to spend the day loading up a bunch of posts of great music and photos.
thanks
Langganan:
Postingan (Atom)
